
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Hingga September 2026, terjadi lonjakan devisa komoditas impor untuk komoditi bahan bakar (minyak Petrolium). Lonjakannya hingga 254,90 persen dengan nominal 138,46 juta USD. Komoditas ini menjadi tertinggi kedua devisa impor dengan kontribusi 15,95 persen, di bawah gandum dengan nominal 150,47 juta USD dan berkontribusi 17,21 persen.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi bagian Selatan (DJBC Sulbagsel), Martha Octavia mengungkapkan hal tersebut saat memaparkan kinerja penerimaan negara dari sektor Bea dan Cukai di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Selasa, 27 Oktober 2026.
Dikatakan, selain gandung dan minyak petrolium, tiga komoditas lain yang masuk lima besar devisa komoditas impor yakni bungkil kedelai senilai 138,67 juta USD (15,86 persen), kemudian gula 78,43 juta USD (8,97 persen), dan perangkat teknis khusus 38,10 juta USD yang berkontribusi 4,36 persen.
Dikatakan, impor bahakn bakar minyak memang hal rutin dilakukan Pertamina Patra Niaga. Namun, akhir-akhir ini terjadi lonjakan cukup signifikan.
“Meskipun terjadi lonjakan cukup signifikan pada impor minyak ptrolium, namun tidak berdampak signifikan pada penerimaan bea cukai. Karena, komoditas impor ini tidak dikenai tarif masuk. Kalau pun dikenakan, tarifnya kecil sekitar 1,06 persen,” ujar Martha.
Kebijakan tidak mengenakan tarif ini berlaku nasional yang tentunya sudah berdasarkan berbagai pertimbangan. Di mana, tim tarif tentu merumuskan mana barang-barang barang impor yang dikenakan tarif dan mana yang tidak.
“Untuk bahan bakar ini misalnya, dominan yang diimpor pertalite yang notabena BBM subsidi. Jadi, jika dikenakan tarif sejak awal, imbasnya akan berdampak langsung ke masyarakat. Oleh karenanya, pemerintah tentu yang kebijakan menguntungkan bagi pemerintah dengan tetap menggerakkan ekonomi masyarakat,” sebut Martha.
Lima negara pengimpor terbesar Sulsel yakni China, Australia, Brazil, Singapura, dan Thailand.
Di sisi lain, lima devisa komoditas ekspor yakni Mate Nikel 684,08 juta USD (49,93 persen), Rumput Laut 137,97 juta USD (10,07 persen), Produk Kakao 87,99 juta USD (8,42 persen), Paduan Fero 76,76 juta USD (5,60 persen), dan Karaginan 52,12 juta USD (3,81 persen). Lima negara pengeskpor terbesar, Jepang, China, USA, Arab Saudi, dan Taiwan.
Hingga September 2026, neraca perdagangan Sulsel, tercatat -0,38 juta USD dengan total nilai ekspor 181,33 juta USD dan impor 181,71 juta USD.
Sementara itu, realisasi penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai, Rp187,48 miliar atau 50,20 persen dari target Rp373,43 miliar. Penerimaan tersebut terdiri dari Bea Masuk Rp111,24 miliar, Bea Keluar Rp26,30 miliar, dan Cukai Rp49,94 miliar.
Bali Putra









