BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Dosen Program Studi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan inovasi laminasi bambu terwarnai sebagai upaya meningkatkan nilai tambah limbah hasil hutan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus yang dilaksanakan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Unhas, Kabupaten Maros. Program ini didukung pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unhas melalui Skim Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.
Laminasi bambu terwarnai merupakan teknologi yang menggabungkan proses laminasi dengan pewarnaan sintetis, sehingga menghasilkan produk dengan kualitas visual yang lebih menarik dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Selain meningkatkan aspek estetika, teknologi ini juga memperluas pemanfaatan bambu sebagai bahan baku berbagai produk kerajinan dan industri kreatif.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh pelatihan mengenai teknik pemanfaatan limbah hasil hutan, khususnya bambu, menjadi produk bernilai tambah. Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mempraktikkan langsung proses pembuatan laminasi bambu terwarnai.
Ketua pelaksana kegiatan, Prof Dr Ir Andi Detti Yunianti mengatakan, laminasi bambu memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan apabila dikembangkan secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
“Saya berharap masyarakat sekitar KHDTK Hutan Pendidikan dapat bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Unhas untuk menyiapkan bahan baku pembuatan handycraft dari laminasi bambu,” ujar Prof Andi Detti.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan mampu mendorong lahirnya usaha berbasis hasil riset sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan.
Antusiasme peserta selama pelatihan menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap teknologi pengolahan bambu yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai jual. Inovasi tersebut diharapkan menjadi salah satu alternatif pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal di sekitar kawasan hutan.
Selain mendorong pemberdayaan masyarakat, program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan peluang usaha berbasis sumber daya lokal. Program ini juga berkontribusi terhadap SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui hilirisasi hasil riset perguruan tinggi, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Laminasi Bambu Terwarnai tersebut, diselenggarakan dosen Program Studi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Unhas melalui Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus di KHDTK Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Unhas, Kabupaten Maros pada Sabtu 25 Juli 2026 lalu.
Editor: Wayan Susena










