BISNISSULAWESI.COM, PALOPO – Bagi penikmati wisata bernuansa alam, terutama saat melewati Kota Palopo, Sulawesi Selatan, nampaknya wajib mendatangi Buntu Pasang Palopo. Objek wisata yang menawarkan keindahan panorama pemandangan alam yang menghadap langsung ke garis pantai dan kota Palopo, dari ketinggian bukit di Kelurahan Peta, Kecamatan Sendana, Kota Palopo.
Lokasinya yang berada di dataran tinggi, membuat akses menuju Buntu Pasang Palopo terbilang cukup menantang, menanjak dan berkelok. Namun sudah beraspal dalam kondisi bagus, menyajikan pemandangan terbuka di sepanjang perjalanan. Pengunjung wajib berhati-hati saat berkendara menuju lokasi wisata yang juga menawarkan udara sejuk pegunungan yang cocok untuk tempat melepas penat.
Objek wisata ini juga menyediakan beragam makanan dan minuman berat maupun ringan ala kafe dengan harga terjangkau.

“Saya pasti datang kembali ke sini (Buntu pasang Palopo, red) dengan persiapan yang lebih matang dan bisa menginap,” ujar pengunjung asal Makassar, Uik Astuti yang datang ke tempat itu tanpa disengaja setelah kembali dari menghadiri sebuah acara di Luwu Timur.
Buntu Pasang Palopo dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti toilet, mushola, spot foto yang indah, serta fasilitas berkemah. Tarif masuk ke lokasi wisata hanya Rp5 ribu per orang, dan Rp15 ribu per orang untuk pengunjung yang ingin berkemah.
Pendiri sekaligus pemilik Buntu Pasang Palopo, Komang Sumerta Wijaya, menyebutkan, sengaja membangun destinasi wisata dengan konsep alam terbuka. Karena pada umumnya masyarakat saat ini membutuhkan ruang terbuka semacam ini.

“Saya memilih tempat di sini, karena dari cerita sejarah, dulu kawasan ini juga menjadi tempat berkumpulnya anak muda,” ujar Komang.
Ia mengaku bersyukur, kehadiran Buntu Pasang Palopo mendapat sambutan positif tokoh dan warga setempat. Karena membuat wilayah tersebut lebih hidup. Terbukti, saat pembukaan Wisata Buntu Pasang Palopo beberapa bulan lalu, dihadiri langsung tokoh dan pejabat setempat. Termasuk dihadiri juga oleh Datu Luwu.
Apalagi, untuk operasional tempat tersebut, pria 35 tahun itu memberdayakan masyarakat lokal sebagai pekerja, mulai pengelola hingga juru masak.
“Harapan saya, kehadiran Buntu Pasang Palopo berampak bagi perekonomian daerah dan masyarakat sekitar,” katanya.
Bali Putra










