Tekanan Kinerja Ekonomi Global Meningkat, SJK tetap Stabil

93
OJK menilai SJK Indonesia tetap terjaga stabil, meski di tengah peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Sektor Jasa Keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga stabil, meski di tengah peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan.

Konflik geopolitik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah, menyebabkan harga energi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini memperkuat ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama sehingga mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah di berbagai negara.

Namun demikian, perekonomian global masih menunjukkan ketahanan. Aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi, meskipun dengan laju termoderasi.

Hal itu, disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, pada Assasemen SJK dan Kebijakan OJK, Jumat (05/06/2026), sebagaimana hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, 26 Mei lalu.

Ojk melihat, di Amerika Serikat, perekonomian relatif resilien dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat, namun tekanan inflasi mulai memengaruhi kepercayaan konsumen.

Sementara di Tiongkok, momentum pertumbuhan ekonomi cenderung melemah, dengan permintaan domestik dan investasi yang masih tertekan, meskipun kinerja ekspor relatif terjaga.

“Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta volatilitas pasar keuangan, terutama aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Friderica.

Di domestik, aktivitas ekonomi menunjukkan perkembangan bervariasi. Dari sisi penawaran, kinerja sektor manufaktur kembali ekspansif pada Mei 2026, dan dari sisi permintaan, aktivitas ekonomi domestik relatif terjaga, dengan inflasi meningkat seiring tekanan harga energi global, namun masih di level terkendali. Sementara, neraca perdagangan masih mencatatkan surplus, meskipun menurun dibandingkan periode sebelumnya.

“Sejalan dengan perkembangan tersebut, kinerja sektor jasa keuangan tetap solid. Intermediasi keuangan tumbuh positif dengan solvabilitas yang terjaga pada level tinggi,” jelasnya.

Perkembangan PMDK

Pasar saham domestik mengalami fase konsolidasi pada Mei 2026, di tengah masih tingginya ketidakpastian global dan penyesuaian portofolio investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup 6.127,38 terkoreksi 11,92 persen mtm. Di tengah dinamika tersebut, kondisi pasar modal domestik tetap menunjukkan tingkat ketahanan yang memadai dengan likuiditas yang terjaga.

Pasar modal domestik terus menjalankan peran sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi. Hingga Mei 2026 (ytd), nilai fundraising korporasi mencapai Rp68,18 triliun.

Penggalangan dana oleh dunia usaha melalui Securities Crowdfunding (SCF) senilai Rp11,09 miliar. Dengan perkembangan tersebut, total nilai dana dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp1,94 triliun.

Perkembangan Sektor Perbankan

Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko terjaga. Pada April 2026, kredit tumbuh 9,98 persen yoy menjadi Rp8.755 triliun. Kredit Investasi tumbuh tertinggi 19,48 persen, diikuti Kredit Konsumsi 6,13 persen, dan Kredit Modal Kerja 6,04 persen.

Kredit dengan pertumbuhan tertinggi, kredit korporasi yang tumbuh 15,51 persen yoy, sementara kredit UMKM menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif 0,16 persen. Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi 14,35 persen.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh 16,99 persen, 8,65 persen, dan 9,00 persen.

Perkembangan Sektor PPDP

Pada sektor PPDP, aset industri asuransi pada April 2026 mencapai Rp1.202,16 triliun atau naik 3,39 persen. Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp984,20 triliun atau naik 4,65 persen.

Industri asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital (RBC) masing-masing 476,11 persen dan 311,74 persen (di atas threshold 120 persen).

Di sisi industri dana pensiun, total aset dana pensiun per April 2026 tumbuh 6,12 persen dengan nilai mencapai Rp1.690,64 triliun

Pada perusahaan penjaminan, April 2026 nilai aset terkontraksi 1,28 persen menjadi Rp46,73 triliun.

Perkembangan Sektor PVML

Di sektor PVML, piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh 2,08 persen pada April 2026 menjadi Rp514,65 triliun, didukung pembiayaan modal kerja yang meningkat 10,64 persen.

Profil risiko PP terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross tercatat 2,89 persen dan NPF net sebesar 0,78 persen.

Berdasarkan informasi pada SLIK, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 56,92 persen menjadi Rp12,93 triliun dengan NPF gross 2,99 persen.

Pembiayaan modal ventura pada April 2026 terkontraksi sebesar 0,87 persen yoy (Maret 2026: terkontraksi 0,96 persen yoy), dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,35 triliun.

Editor: Bali Putra