Pelaku Usaha Rumput Laut Lutim Alami Penurunan Produktifitas

127
Pengusaha rumput laut di Lutim, I Nyoman Sugiana saat mendampingi pembeli asal Cina yang melihat langsung produksi rumput laut di Malili, Lutim. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, LUWU TIMUR – Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, memengaruhi perdagangan komoditas perikanan, termasuk rumput laut, utamanya jenis Gracilaria. Salah satu komoditas andalan tambak di Kabupaten Luwu Timur (Lutim), tengah menghadapi tantangan produktivitas. Meskipun permintaan pasar domestik dan ekspor masih tersedia, produksi petani belum mampu kembali ke masa jayanya seperti periode 2021–2022, di mana ekspor ke Cina mulai berkembang dengan harga jual yang bagus.

Salah satu yang merasakan hal tersebut, pelaku usaha rumput laut di Lutim, I Nyoman Sugiana. Ia mengakui, industri pengolahan agar-agar dan bahan baku pangan masih membutuhkan Gracilaria dalam jumlah besar, namun, pembeli kini lebih selektif terhadap kualitas produk, terutama kadar air, kebersihan, dan kontinuitas pasokan.

Prumput laut, utamanya jenis Gracilaria di Lutim mengalami penurunan. POTO: ISTIMEWA

Dikatakan, harga rumput laut Gracilaria sangat fluktuatif tergantung kualitas. Berbeda saat periode terbaik 2021–2022, di mana harga kering Gracilaria di tingkat petani berkisar Rp8.000–Rp11.000 per kilogram. Namun saat pasar melemah, harga turun ke level Rp3.000–Rp5.000 per kilogram. “Perbedaan kualitas pascapanen menjadi faktor utama yang menentukan daya saing produk,” katanya.

Selama ini, produksi Gracilaria Lutim dominan dipasarkan ke Makassar, Surabaya, kemudian ke industri pengolahan agar-agar di Pulau Jawa, serta pasar ekspor melalui jaringan eksportir yang melayani permintaan dari Cina.

Pada masa puncaknya, potensi produksi Gracilaria Lutim sekitar 15.000 ton per tahun dengan lahan budidaya 2.480 hektare. Bahkan salah satu koperasi produsen mampu menghasilkan 500 ton per bulan atau 6.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar dan ekspor.

Namun memasuki 2026, banyak petani tambak mengeluhkan pertumbuhan rumput laut yang jauh lebih lambat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Produktivitas di sejumlah lokasi menurun akibat kualitas bibit yang digunakan berulang, perubahan kualitas air tambak, sedimentasi saluran, serta fluktuasi salinitas yang dipengaruhi curah hujan. Kondisi ini menyebabkan hasil panen per hektare menurun sebelumnya per hektar bisa panen 3-4 ton rumput kering, saat ini hanya 1-1,5 ton per hektar dengan biaya produksi menjadi lebih tinggi.

Menghadapi kondisi saat ini, petani mulai menerapkan berbagai strategi adaptasi. Selain menggunakan sistem polikultur dengan bandeng, petani juga melakukan perbaikan saluran tambak, pergantian bibit yang lebih rutin, serta peningkatan kualitas pengeringan agar memperoleh harga jual yang lebih baik.

Meski menghadapi penurunan produktivitas, Sugiana yang juga pemilik Koperasi KSU Adiluwung dan PT. Adiluwung Mitra Bahari sebagai pembeli rumput laut dari petani, menilai prospek bisnis Gracilaria di Lutim masih menjanjikan. Ketersediaan lahan tambak yang luas, serta kebutuhan industri pengolahan yang terus berlanjut menjadi modal penting untuk mengembalikan kejayaan komoditas ini.

Tentu dibutuhkan dukungan pemerintah daerah, dengan membantu petani tambak menyediakan excavator aviby untuk mengatasi sedimentasi lokasi dan saluran tambak.

“Selain itu, tantangan terbesar ke depan adalah peningkatan produktivitas tambak, penyediaan bibit unggul, dan penguatan akses pasar agar petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik,” pungkasnya.

Bali Putra