Unhas Perkenalkan Inovasi Pengelolaan Sampah Organik Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular

117
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan inovasi pengelolaan sampah organik terintegrasi berbasis ekonomi sirkular kepada Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO OBE.

Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, memperkenalkan hal itu saat kunjungan yang dirangkai pengoperasian perdana uji coba operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Unhas yang dikembangkan melalui inovasi Fakultas Peternakan, Senin, 19 Oktober 2026.

Inovasi ini dirancang untuk mengolah sampah organik menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui rangkaian proses yang saling terhubung, mulai pencacahan sampah, budidaya maggot, pengolahan dengan cacing, hingga pemanfaatan hasilnya untuk mendukung peternakan dan produksi pupuk organik.

Jamaluddin Jompa atau Prof. JJ menegaskan, kolaborasi internasional memiliki arti penting bagi pengembangan riset yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, keberhasilan riset tidak cukup diukur dari hasil penelitian, tetapi juga dari kemampuan menerapkan pengetahuan untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat.

“Kerja sama ini sangat luar biasa bagi Unhas, terutama dalam mengembangkan riset agar hasilnya benar-benar menjadi solusi. Salah satu persoalan yang perlu kita jawab bersama adalah bagaimana mengonversi sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Prof. JJ  juga berharap model pengelolaan sampah terpadu yang dikembangkan Unhas dapat diadopsi di berbagai daerah. Menurutnya, penerapan model serupa berpotensi mendukung pengurangan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Dalam ekosistem tersebut, budidaya maggot, produksi pupuk organik melalui pengolahan bahan organik dan cacing, serta pemeliharaan ayam Alope menjadi bagian dari upaya menciptakan rantai produksi yang saling mendukung. Pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan dapat menghasilkan nilai ekonomi dengan biaya pemeliharaan yang relatif terjangkau.

Prof. JJ menambahkan bahwa ayam Alope, sebagai unggas lokal khas Sulawesi Selatan, juga memiliki potensi menjadi simbol pengembangan ekonomi lokal yang bertumpu pada kekayaan sumber daya daerah. Pengembangannya diharapkan dapat mendorong masyarakat mengembangkan usaha produktif sembari menjaga keseimbangan lingkungan.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO OBE, mengapresiasi kesempatan untuk melihat secara langsung inovasi yang dikembangkan Unhas dalam pengelolaan sampah dan penanganan perubahan iklim.

Menurutnya, kolaborasi Indonesia dan Inggris dapat mendorong penerapan solusi iklim inovatif melalui riset dan pemanfaatan teknologi yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

Ia juga menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberinya kesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa dan mengenal lebih jauh kekayaan sejarah serta potensi penelitian di Sulawesi Selatan, termasuk lukisan gua prasejarah di kawasan Leang-Leang yang memiliki nilai penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

“Semoga kemitraan strategis Indonesia dan Inggris dapat terus mendukung pertumbuhan hijau yang inklusif serta pengembangan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” harapnya.

Dukungan terhadap kolaborasi rendah karbon dan ekonomi sirkular, menurutnya, menjadi bagian dari upaya bersama untuk menekan emisi karbon dan mencapai target net zero emissions.

Editor: Bali Putra