Tim Unhas Dampingi Pemkab Bulukumba untuk Tembus Panggung Global melalui Kerja Sama Internasional

79
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, BULUKUMBA – Di tengah semakin terbukanya ruang kolaborasi antarwilayah di dunia, pemerintah daerah tidak lagi hanya berperan sebagai pelaksana kebijakan domestik. Juga dituntut mampu membangun jejaring internasional yang berdampak bagi pembangunan daerah.

Hal ini kemudian menjadi dasar pemikiran Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPMU-PK-M) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan forum strategis yang mempertemukan akademisi dan pemerintah daerah, membahas bagaimana Bulukumba memanfaatkan potensi lokal sebagai pintu masuk menuju kerja sama internasional.

Ketua Tim PPMU-PK-M Unhas sekaligus Ketua Program Studi Magister Hubungan Internasional FISIP Unhas, Darwis, menegaskan, era otonomi daerah telah membuka peluang bagi pemerintah daerah menjalin kemitraan dengan berbagai pemerintah daerah di luar negeri.

“Peluang tersebut akan terwujud apabila didukung sumber daya manusia yang memahami tata kelola kerja sama internasional, mulai perencanaan, penyusunan proposal, hingga implementasi program,” katanya.

Anggota tim pengabdian yang juga osen Hubungan Internasional Unhas, Ishaq Rahman menjelaskan, diplomasi daerah saat ini menjadi salah satu instrumen penting mempercepat pembangunan melalui kolaborasi lintas negara.

“Bulukumba memiliki berbagai modal yang dapat dipromosikan di tingkat internasional, sektor kemaritiman, industri perahu Pinisi, pariwisata, hingga komoditas unggulan,” katanya.

Tantangannya bukan pada minimnya potensi, melainkan bagaimana potensi tersebut dikemas menjadi proposal kerja sama yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan calon mitra.

Dari Dinas Perikanan, Yusli menyoroti peluang kerja sama yang dapat dibangun melalui identitas maritim Bulukumba. Daerah tersebut memiliki sejarah kerja sama dengan Brunei serta pengalaman ekspor ke Arab Saudi melalui pelaku usaha.

“Potensi ini dapat diperkuat melalui kombinasi pendekatan business to business atau B to B dan government to government atau G to G, termasuk memanfaatkan nilai budaya Pinisi maupun keterkaitan sejarah dengan komunitas Aborigin sebagai pintu masuk diplomasi daerah,” kata Yusli.

Sementara itu, Endang dari Baperida Kabupaten Bulukumba mengangkat persoalan yang berbeda. Ia menanyakan strategi meningkatkan kualitas presentasi berbagai inovasi daerah yang selama ini telah berhasil menarik perhatian dalam berbagai kompetisi, namun belum memperoleh hasil maksimal karena aspek penyajian.

“Kami juga membutuhkan masukan terkait bentuk kerja sama internasional yang potensial untuk mendukung pengembangan inovasi daerah,” kata Endang.

Editor: Bali Putra