Tiga Pekan, Unhas Tandatangani Sembilan MoU

78
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Dalam tiga pekan, Universitas Hasanuddin (Unhas) menandatangani sembilan nota kesepahaman (MoU) dengan perguruan tinggi dari lima negara. Kemitraan yang mencakup Turki, Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Australia ini membuka ruang pengembangan program pendidikan bersama, kesempatan studi lanjut, hingga kolaborasi riset dan publikasi ilmiah.

Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian Unhas, Suharman Hamzah, menyebutkan, perluasan jejaring perguruan tinggi mitra perlu diikuti dengan langkah konkret yang mempertemukan kebutuhan akademik Unhas dan potensi institusi mitra. Menurutnya, nilai sebuah kemitraan terletak pada kesempatan yang berhasil dibuka dan program yang dapat dijalankan bersama.

“Yang kita harapkan dari kerja sama ini adalah terbukanya lebih banyak jalur bagi mahasiswa Unhas untuk melanjutkan studi, termasuk melalui program double degree. Kita juga ingin dosen memiliki lebih banyak mitra untuk mengembangkan riset dan menghasilkan publikasi bersama. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menerjemahkan kesepahaman ini menjadi program yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh fakultas, program studi, mahasiswa, dan dosen,” ujar Prof. Suharman.

Sembilan perguruan tinggi yang menjalin kerja sama dengan Unhas dalam periode tersebut diantaranya Suleyman Demirel University (SDU), Turki, Nueva Vizcaya State University (NVSU), Filipina, National Formosa University (NFU), Taiwan, University of San Carlos (USC), Filipina, SEGi University, Malaysia, Ming-Chuan University (MCU), Taiwan, The University of Queensland (UQ), Australia, University of Nueva Caceres (UNC), Filipina, De La Salle University–Dasmariñas, Filipina.

Penandatanganan kesepahaman dilakukan melalui mekanisme langsung maupun desk-to-desk, menyesuaikan proses dan kebutuhan masing-masing institusi. Komposisi mitra tersebut memperlihatkan jangkauan kemitraan Unhas yang mencakup kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur hingga Australia, serta Turki.

Dari sisi pendidikan, kerja sama ini berpotensi dikembangkan melalui pertukaran mahasiswa, studi lanjut, penyusunan program double degree, dan kegiatan akademik bersama. Sementara itu, bagi dosen dan peneliti, jejaring tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk merancang penelitian lintas institusi, berbagi keahlian, serta meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah bersama.

“Realisasi berbagai peluang tersebut memerlukan tindak lanjut di tingkat fakultas dan program studi, termasuk pemetaan bidang yang sesuai, penyusunan skema kegiatan, serta pembahasan teknis dengan perguruan tinggi mitra. Dengan langkah tersebut, kesepahaman yang telah dibangun dapat diarahkan pada program yang terencana, terukur, dan relevan dengan kebutuhan pengembangan akademik,” kata Prof. Suharman.

Bagi Unhas, perluasan jejaring internasional menyediakan lebih banyak ruang untuk mempertemukan potensi keilmuan, pengalaman pendidikan, dan kapasitas riset lintas negara. Tahap berikutnya adalah memastikan setiap kemitraan memiliki arah implementasi yang jelas sehingga peluang kerja sama dapat berkembang menjadi pengalaman belajar dan hasil akademik yang nyata bagi sivitas akademika.