LPS Dorong Generasi Muda Tingkatan Kesadaran Finansial

96
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. Muhammad Ruslin saat dimintai keterangan usai memberi kuliah umum dihadapan ratusan mahasiswa berbagai program studi lintas fakultas di Unhas, Jumat (12/06/2026). POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Lembaga Penjamin Simpanan terus mendorong peningkatan kesadaran finansial kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa.

Pasalnya, hingga saat ini, literasi keuangan generasi muda masih terbilang rendah, sehingga rentan terkena jebakan finansial seperti pinjaman berbunga sangat tinggi, judi online (judol), investasi bodong, dan lainnya. Di samping itu, kesadaran finansial merupakan fondasi integritas dan kemandirian generasi muda.

“Untuk diketahui, bunga pinjaman online atau pinjol itu sangat tinggi, bisa mencapai 12 persen perbulan atau di atas 100 persen dalam setahun. Begitu juga judol, tidak ada yang bisa menang karena permainan dan hanya dikasi menang di awal. Jadi, generasi muda jangan sampai terjebak dengan. Salah satunya dengan meningkatkan literasi,” ungkap Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution saat memberi kuliah umum dihadapan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi lintas fakultas di Universitas Hasanuddin (Unhas), Jumat (12/06/2026).

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution menyebutkan, 60 persen pengguna pinjol di Indonesia adalah kalangan muda usia 19-34 tahun. POTO : ISTIMEWA

Kuliah umum yang berlangsung di Arsjad Rasjid Lecture Theatre Unhas, dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) LPS dengan Unhas menyangkut sejumlah hal mulai literasi, kesempatan magang, beasiswa, dan penelitian.

Pada kesempatan itu, Farid menyebutkan, kesadaran finansial adalah bekal penting masa depan. Dengan kesadaran finansial dan literasi keuangan yang baik, diharapkan setiap keputusan keuangan yang diambil dapat lebih bijak, bertanggung jawab dan berintegritas sehingga generasi muda dapat terhindar dari virus-virus keuangan digital saat ini dan jebakan finansial.

Indonesia, saat ini didominasi generasi usia produktif. Di mana, sekitar 69 persen penduduk berada pada kelompok Generasi X, milenial, dan Generasi Z yang notabena didukung tingginya kepemilikan smartphone, sehingga sangat mudah mengakses produk keuangan didital.

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution saat memberi kuliah umum dihadapan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi lintas fakultas di Universitas Hasanuddin (Unhas), Jumat (12/06/2026). POTO : ISTIMEWA

Namun, tingginya akses tersebut belum diimbangi kemampuan literasi yang memadai, membuat generasi muda rentan terkena jebakan finansial.

“Zaman sekarang, ingin kelihatan lebih keren, tidak ketinggalan zaman, namun karena pemahaman masih kurang akhirnya mulai dengan pinjol, judol. Punya uang sedikit, investasinya bodong. Jadi, harus banyak belajar mengenai keuangan yang lebih baik,” kata Farid.

LPS terus berupaya memberikan pemahaman yang praktis kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, agar nanti mereka bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi. Juga dijelaskan bagaimana LPS dapat melindungi semua nasabah dan menjaga lembaga keuangan di Indonesia.

Ia berpesan agar mahasiswa terus belajar, memperluas wawasan dan menjadi generasi muda yang cerdas berintegritas serta siap memberi kontribusi terbaik untuk bangsa Indonesia.

Farid menyebutkan data, 60 persen pengguna pinjol di Indonesia adalah kalangan muda usia 19-34 tahun, dan 40 persen usia 35-64 tahun. Hampir berimbang antara Perempuan dan laki-laki yakni 49 persen berbanding 51 persen.

“Oleh karenanya penting bagi genarasi muda untuk membangun kesadaran finansial, mampu mengelola keuangan secara bijak, disiplin, dan bertanggungjawab,” jelasnya seraya menyebutkan, beberapa pondasi kesadaran finansial diantaranya dengan rutin menabung yang notabena melatih untuk menunda kesenangan, melatih disiplin dan konsistensi serta melatih risk manajemen kebutuhan masa depan, dan pengendalian diri.

Membangun kesadaran finansial bukan sekadar mengelola uang, juga mencerminkan karakter. Farid memperkenalkan prinsip pengelolaan keuangan, yakni memperoleh penghasilan secara halal, mengelola penghasilan secara hemat, dan menggunakannya fokus untuk masa depan.

“Ada tips dasar mengelola keuangan, menetapkan tujuan keuangan, menyisihkan pendapatan untuk tabungan sejak awal, membeli kebutuhan daripada keinginan, serta menjadikan pendidikan dan pengetahuan sebagai investasi terbaik,” katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Muhammad Ruslin, kuliah umum kali ini sangat penting dan menginspirasi bagi mahasiswa. Terlihat dari banyaknya mahasiswa yang hadir. Mengingat, Unhas menerapkan kebijakan belajar tatap muka hanya di hari Senin – Kamis. Sementara jumat belajar sistem online.

“Namun, meskipun hari ini seharusnya mereka belajar online, ternyata yang hadir langsung untuk kuliah ini sangat banyak,” ujarnya.

Dikatakan, Unhas memiliki komitmen yang sangat luar dalam hal peningkatan kemampuan mahasiswa. Banyak hal yang dihadirkan Unhas, seperti Bank Unhas sebagai laboratorium di kampus. Karena saat ini disadari, perguruan tinggi ibarat menara gading, terlalu banyak teori namun tidak pernah belajar bagaimana mengetahui keadaan pasar di lapangan.

“Kalau kita sudah punya laboratorium, kemudian misalnya nanti  dari ekonomi, tinggal melihat langsung bagaimana sih bank yang seharusnya, mungkin bisa belajarnya di situ,” katanya.

Baru-baru ini, Unhas juga meresmikan “Unhas Press”, Multimedia Nusantara. Sudah ada broadcasting, TV Unhas yang sudah TV analog dan disiarkan, semua itu bagian dari laboratorium yang diberikan kepada mahasiswa sehingga bisa lebih dekat dengan dunia usaha atau dunia industri.

Sementara terkait kuliah umum, Ruslin berharap dapat meningkatkan kesadaran finansial generasi muda, khususnya mahasiswa Unhas. Sehingga mereka bisa mengelola keuangan secara bijak, displin, dan bertanggungjawabn, dan terhindar dari jebakan finansial seperti pinjol, judol, investasi bodong dan lainnya.

Bali Putra