Forum Rektor PTN-BH, Dorong Kemandirian Kampus dan Perkuat Peran Akademik Dukung Ketahanan Pangan Nasional

74
U25 Leaders Forum Rektor Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di Unhas, Selasa (28/04/2026). POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – U25 Leaders Forum Rektor Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), mendorong penguatan kemandirian PTN-BH melalui skema pendanaan inovatif, serta penguatan peran akademik dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dua agenda ini menjadi fokus bahasan pada forum yang berlangsung di Universitas Hasanuddin (Unhas), Selasa (28/04/2026).

Ketua U25 yang juga Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah, menyebutkan, sangat penting dilakukan penguatan ekosistem inovasi yang tidak hanya berhenti pada diskursus, tetapi menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berdampak nyata.

“Forum ini harus melahirkan langkah konkret, bukan wacana. Harus ada rekomendasi yang bisa langsung diimplementasikan,” tegasnya.

Perguruan tinggi harus hadir memastikan setiap kebijakan pangan berjalan aman, berbasis sains, dan berkelanjutan.

Forum ini tidak sekadar menjadi ruang temu para pimpinan kampus, tetapi dirancang sebagai wadah konsolidasi gagasan berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan nasional, khususnya di bidang ketahanan pangan dan gizi.

Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menegaskan, kekuatan PTN-BH terletak pada solidaritas dan kolaborasi, bukan kompetisi semata. Para rektor harus memiliki prinsip sama untuk saling menguatkan dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi nasional.

Sebagai tuan rumah, Unhas menampilkan inovasi konkret melalui pengembangan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).  “SPPG, selain layanan, juga laboratorium hidup untuk memastikan setiap kebijakan gizi bisa diuji dan disempurnakan,” katanya.

Mengusung tema “Penguatan Ekosistem Inovasi Berkelanjutan untuk Ketahanan Pangan dan Gizi,” forum ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, dan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, yang memberikan perspektif kebijakan dan implementasi lapangan.

Brian menyebutkan, langkah Unhas menghadirkan SPPG menunjukkan pergeseran penting peran kampus, dari pusat produksi ilmu menjadi aktor implementasi kebijakan publik.

“Pondasi utama pembangunan sumber daya manusia terletak pada aspek gizi. Selain aspek kesehatan, ini juga berpengaruh langsung terhadap kemampuan belajar dan produktivitas.

Brian menambahkan, dengan dukungan riset, tenaga ahli, serta jejaring pengabdian masyarakat, perguruan tinggi memiliki posisi penting untuk memastikan program berjalan optimal.

Editor: Bali Putra