Ekspor Menurun Signifikan, Neraca Perdagangan Sulsel Masih Surplus 51,54 Juta USD

122
Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kanwil DJBC Sulbagsel, Alimuddin Lisaw memaparkan kinerja kepabeanan dan cukai di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Jumat (19/06/2026). POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR –  Hingga Mei 2026, neraca perdagangan Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat surplus 51,54 juta USD dengan total nilai ekspor 141,83 juta USD dan impor 90,29 juta USD. Komuditas mate nikel masih mendominasi ekspor Sulsel dengan share sebesar 51,2 persen, sedangkan impor masih didominasi gandum.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kantor Wilayah Direktorat Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Kanwil DJBC Sulbagsel), Alimuddin Lisaw di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Jumat (19/06/2026).

“Secara komulatif, ekspor Sulsel mengalami penurunan signifikan mencapai 0,67 miliar USD sementara impor tumbuh 0,44 miliar USD,’ ujar Alimuddin.

Realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai Sulsel hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp111,27 miliar atau 29,80 persen dari target Rp373,43 miliar. Bersumber dari penerimaan Bea Masuk Rp68,05 miliar, Bea Keluar Rp17,00 miliar, dan Cukai Rp26,22 miliar. POTO: BALI PUTRA

Devisa komuditas ekspor, meskipun menjadi komuditas dominan ekspor Sulsel, ekspor mate nikel Sulsel di lima bulan pertama 2026 mengalami penurunan 1,9 persen dengan nilai 338,6 juta USD. Disusul diposisi kedua rumput laut 59,9 juta USD atau share sebesar 9,1 persen, produk kakao 45,2 juta USD atau share 6,8 persen, paduan fero 35,7 juta USD atau share 5,4 persen.

“Komuditas padua fero menurun sangat signifikan mencapai 77,9 persen, akibat penurunan produksi smelter di daerah Bantaeng,” ujarnya.

Terakhir yang juga masuk lima besar komuditas ekspor Sulsel, karaginan dengan nilai 32,5 juta USD atau share 4,9 persen.

Lima negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar Sulsel, Jepang 359,69 juta USD, Cina 166,04 juta USD, USA 25,01 juta USD, Vietnam 11,76 juta USD dan lainnya 91,57 juta USD.

Sementara dari sisi impor, gandum masih menjadi komuditas impor terbesar *0,3 juta USD (51,2 persen), kemudian minyak patrolium 63 juta USD (14,5 persen), bungkil kedelai 45,6 juta USD (13,1 persen), gula 53,1 juta USD (12,1 persen) dan perangkat teknis khusus 38,1 juta USD (8,6 persen).

“Lima negara pengimpor terbesar Sulsel, Cina, Singapura, Brazil, Thailand, dan Australia,” sebut Alimuddin.

Sementara itu, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp111,27 miliar atau 29,80 persen dari target Rp373,43 miliar. Penerimaan tersebut bersumber dari penerimaan Bea Masuk Rp68,05 miliar, Bea Keluar Rp17,00 miliar, dan Cukai Rp26,22 miliar.

Bali Putra