BISNISSULAWESI.COM, BALI – Potensi industri halal dunia sangat besar seiring pertumbuhan populasi muslim dunia yang saat ini mencapai 2 miliar jiwa dengan kelompok Gen Z sebanyak 540 juta jiwa pada 2030. Hal ini, juga selaras dengan meningkatnya konsumsi masyarakat muslim.
Oleh karenanya, Indonesia mestinya tidak hanya menjadi pasar, melainkan mampu mengambil posisi sebagai salah satu pusat industri halal dunia.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan (KPwBI Sulsel), Rezki Ernadi Wiminda pada kegiatan “Media Engagemen” di Bali, Kamis, 27 Agustus 2026.

“Kalau dilihat, pengeluaran muslim pada 2023 mencapai 2,43 triliun USD dan diproyeksi 3,36 triliun USD pada 2028. Bahkan, sejumlah negara menetapkan sektor halal sebagai bagian penting dari strategi ekonominya,” ujar Rizki.
Ia menyebut China, sebagai salah satu negara pengekspor pakaian muslim ke kawasan Timur Tengah. Uni Emirat Arab (UEA) berkembang sebagai pusat ekonomi syariah, sementara Arab Saudi menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi dan keislaman dunia.
Brasil memiliki posisi penting sebagai pemasok daging unggas halal ke pasar Timur Tengah. Sementara Korea Selatan dan Jepang mulai mengembangkan sektor pariwisata halal.
Thailand bahkan dikenal sebagai salah satu pemasok makanan halal dunia, sedangkan Malaysia telah lama mengembangkan industri halal dan keuangan syariah.
“Indonesia masih jadi konsumen, pembeli, objek pasar. Indonesia harus mampu memanfaatkan besarnya jumlah penduduk muslim untuk membangun ekosistem industri halal yang lebih kuat,” kata Rezki.
Selain itu, BI Sulsel juga terus berupaya mendorong kemandirian ekonomi pesantren agar tidak selalu bergantung pada bantuan. Pesantren perlu memiliki unit usaha yang mampu menopang kegiatan pesantren secara mandiri. Seperti usaha produksi air minum, laundry hingga ritel.
BI Sulsel, bekerja sama pelaku UMKM, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) UIN Alauddin Makassar serta sejumlah perguruan tinggi untuk membantu proses sertifikasi. Dimana, fasilitasi sertifikasi halal tidak hanya menyasar produk, juga Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Potong Unggas (RPU), termasuk juru sembelih hewan (Juleha).
“Di Sulsel sudah ada sembilan RPH/RPU yang sudah mendapatkan pendampingan, yang tersebar di beberapa daerah. Ada di Parepare, Palopo, Gowa, Bone, Sinjai, Bantaeng, dan Pangkep,” sebut Rizki.
Sementara itu, dalam upaya optimalisasi pembiayaan syariah, BI Sulsel berupaya meningkatkan akses pelaku usaha terhadap pembiayaan syariah. Upaya dilakukan melalui workshop pembiayaan syariah, juga perluasan literasi. BI Sulsel juga mendorong edukasi ekonomi dan keuangan syariah melalui berbagai forum dan kegiatan, serta melibatkan berbagai pihak.
Bali Putra










