Unhas dan Perguruan Tinggi Tiongkok Perkuat Kolaborasi Teknologi Kelautan Berkelanjutan

109
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Pengelolaan sumber daya hayati laut menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai perubahan iklim, tekanan terhadap ekosistem pesisir, hingga kebutuhan akan pendekatan berbasis sains dan teknologi dalam menjaga keberlanjutan laut. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai perguruan tinggi yang memiliki kepakaran di bidang kelautan dan perikanan terus mendorong penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi internasional melalui pengembangan teknologi marine ranching.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Talent Cultivation and Technical Personnel Training Course: China-Indonesia Marine Ranching Technology. Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, serta profesional dari Indonesia dan Tiongkok untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, dan mengembangkan solusi pengelolaan ekosistem laut yang berkelanjutan.

Kegiatan yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas ini merupakan kolaborasi bersama Shanghai Ocean University dan Guangdong Ocean University.

Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi dan Alumni FIKP Unhas, Prof. Mukti Zainuddin, menyebutkan, kegiatan ini memberikan manfaat luas tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi dosen, mahasiswa, serta para profesional di bidang kelautan dari kedua negara.

“Melalui kegiatan ini, kita mendapatkan pengalaman langsung mengenai teknologi marine ranching yang dapat mendukung komunitas global dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Dapat membangun sistem pengelolaan laut yang lebih baik,” jelas Prof Mukti.

Dikatakan, teknologi ranching merupakan salah satu pendekatan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus melindungi ekosistem dari dampak perubahan iklim

Sementara itu, Vice President Shanghai Ocean University, Prof. Weijie Ni, menilai kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga membuka peluang pengembangan riset bersama serta pemanfaatan teknologi kelautan untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

“Shanghai Ocean University merasa sangat senang dapat bekerja sama dengan Unhas. Kami berharap dapat memberikan pengalaman terbaik, memperluas pertukaran pengetahuan, serta bersama-sama membangun inovasi teknologi kelautan yang bermanfaat bagi masyarakat global,” jelas Prof Weijie Ni.

Dalam kegiatan ini, para peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep, teknologi, dan praktik pengelolaan sumber daya laut yang telah berkembang.

Direktur Kemitraan Unhas, Ansariadi, menyampaikan kegiatan Talent Cultivation memiliki arti penting dalam pengembangan kompetensi mahasiswa dan sivitas akademika. Program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan.

“Kami sangat senang mahasiswa dapat bergabung dalam kegiatan ini. Banyak hal yang dapat diperoleh, terutama pengetahuan dan pengalaman terkait teknologi kelautan. Materi yang diberikan para ahli dari China diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa,” kata Ansariadi.

Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa Unhas untuk memperluas pengalaman internasional, termasuk peluang melanjutkan studi dan membangun jejaring akademik bersama perguruan tinggi mitra di Tiongkok.

Kegiatan ini berlangsung di Ruang Sidang FIKP Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (23/06). Rangkaian pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber dari perguruan tinggi mitra Tiongkok, yakni Dr. Shike Gao (Shanghai Ocean University), Dr. Ning Chen (Guangdong Ocean University), Shuxia Jiang (Shanghai Ocean University).

Materi pelatihan yang disampaikan mencakup tiga aspek utama. Pertama, environmental assessment sebagai dasar dalam melakukan kajian kondisi ekosistem laut serta menentukan strategi pengelolaan kawasan marine ranching yang tepat.

Kedua, manajemen dan pengembangan pengelolaan sumber daya laut, termasuk pendekatan tata kelola yang mendukung keberlanjutan ekosistem.

Ketiga, pemanfaatan teknologi modern untuk mendukung proses pemantauan (monitoring) dan pengelolaan kawasan laut secara efektif berbasis data dan inovasi.

Editor: Bali Putra