
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – PT PLN (Persero) terus melakukan berbagai langkah mempercepat peningkatan daya mampu pasok dan memulihkan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik pada Sistem Kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).
Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini, penurunan daya mampu pembangkit hidro sebagai dampak fenomena El Nino. Penurunan produksi terjadi pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), di antaranya PLTA Poso, Bakaru, dan Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, menjelaskan, kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan pasok Sistem Sulbagsel. Daya mampu pembangkit hidro yang sebelumnya berada di kisaran 850 megawatt (MW) kini berada di sekitar 250 MW, atau mengalami penurunan sekitar 600 MW.

“Penurunan daya mampu pembangkit hidro menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Sulbagsel. Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino berdampak pada produksi sejumlah pembangkit hidro, sehingga daya mampu pasok mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ujar Edyansyah.
Menghadapi kondisi tersebut, PLN menjalankan berbagai upaya untuk meningkatkan kembali daya mampu pasok sistem. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi pembangkit yang masih tersedia,termasuk mempercepat proses pemulihan dan perbaikan PLTU Jeneponto yang mengalami kendala teknis, mengoptimalkan pembangkit yang masih tersedia, serta mendorong tambahan pasokan dari pembangkit lainnya.
“Kami terus melakukan langkah-langkah percepatan secara paralel. Setiap tambahan megawatt sangat berarti untuk memperkuat sistem. Karena itu, seluruh potensi pembangkit yang tersedia terus kami optimalkan, sementara proses pemulihan dan perbaikan pembangkit juga terus dikawal,” lanjut Edyansyah.

Selain optimalisasi pembangkit, PLN juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait, sebagai bagian dari upaya mitigasi terhadap kondisi hidrologi. Salah satunya melalui pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro.
Di sisi operasional, PLN terus memantau kondisi Sistem Sulbagsel secara real time dan menyesuaikan pola operasi pembangkit dengan kondisi pasokan serta kebutuhan listrik. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem sekaligus mempercepat pemulihan kapasitas pasokan.
“Kami memahami kondisi ini berdampak kepada masyarakat. Karena itu, PLN terus berupaya mempercepat pemulihan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia. Kami akan terus mengevaluasi perkembangan sistem dari waktu ke waktu agar keseimbangan suplai dan kebutuhan listrik dapat segera kembali,” pungkas Edyansyah.
*/Editor: Bali Putra









