
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Lonjakan pendaftaran kursus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sempat terjadi menjelang berakhirnya program tambahan kredit satu kali SkillsFuture Credit ternyata tidak bersifat sementara. Sejumlah penyedia pelatihan di Singapura melaporkan, tren tersebut terus berlanjut dan bahkan berkembang menjadi pertumbuhan yang signifikan bagi sektor pelatihan AI.
Para penyedia pelatihan mengatakan meningkatnya minat terhadap AI telah mendorong bertambahnya jumlah peserta di setiap kelas, kenaikan pendapatan, serta meningkatnya permintaan dari individu maupun perusahaan.
Dengan biaya kursus yang berkisar dari ratusan hingga ribuan dolar Singapura, program pelatihan AI telah memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan sejumlah lembaga pelatihan.
Chief Executive Officer Heicoders Academy Min Yan, mengatakan program-program terkait AI generatif kini menyumbang sekitar 80 persen dari total pendapatan akademi tersebut. Keuntungan dari kursus AI bahkan meningkat sekitar 100 persen setiap tahun dalam tiga tahun terakhir.
Sementara itu, Info-Tech Academy melaporkan lonjakan permintaan yang sangat tinggi terhadap pelatihan AI. Jumlah pendaftar kursus AI pada 2025 meningkat hingga 2.070 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut perusahaan tersebut, peningkatan itu dipicu tingginya aktivitas pelatihan menjelang berakhirnya tambahan kredit SkillsFuture Credit pada 2025, serta semakin beragamnya pilihan kursus AI yang ditawarkan akademi.
Kursus pertama mereka berfokus pada pemanfaatan efektif alat AI generatif untuk meningkatkan produktivitas. Pada 2025, akademi tersebut menambahkan empat kursus baru untuk peserta tingkat pemula hingga menengah, mencakup berbagai topik mulai dari penggunaan ChatGPT hingga penerapan AI generatif untuk manajemen bisnis yang lebih efektif.
Permintaan terhadap kursus-kursus tersebut terus meningkat. Dalam periode kuartal pertama 2025 hingga kuartal pertama 2026, jumlah pendaftaran naik 514 persen. Kenaikan ini mencerminkan tingginya minat dari individu maupun perusahaan yang ingin membangun keterampilan AI yang dapat diterapkan secara praktis.
Tren tersebut juga terlihat pada portal kursus SkillsFuture, di mana kata kunci “AI” dan “artificial intelligence AI” menjadi pencarian paling populer per 18 Juni 2026.
Heicoders mencatat lebih dari tiga ribu peserta telah mengikuti program AI mereka sepanjang 2026. Sebagian besar peserta merupakan profesional yang sudah bekerja.
Sekitar 60 persen peserta merupakan karyawan yang dibiayai perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 30 persen merupakan profesional dan pemilik usaha yang membiayai sendiri pelatihannya untuk meningkatkan produktivitas atau mempertahankan daya saing di tengah semakin luasnya adopsi AI. Sisanya, sekitar 10 persen, terdiri dari lulusan baru dan pencari kerja yang berharap keterampilan AI dapat meningkatkan peluang kerja mereka.
Biaya kursus AI bervariasi tergantung penyedia dan tingkat pelatihan. Di Heicoders, biaya program umumnya berkisar antara 600 hingga 1.000 dolar Singapura setelah subsidi pemerintah. Peserta juga dapat menggunakan kredit SkillsFuture dan berbagai subsidi lain yang memenuhi syarat untuk mengurangi biaya pelatihan.
Country Manager Singapura di Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) Daniel Leung mengatakan, partisipasi dalam acara dan kursus AI yang diselenggarakan ACCA di Singapura meningkat sekitar 12 persen antara 2023 hingga 2025.
Laporan Global Talent Trends 2026 milik ACCA menunjukkan, perusahaan semakin menghargai kemampuan literasi AI dan kompetensi digital. Profesional di bidang keuangan yang mengembangkan keterampilan tersebut dinilai memiliki peluang karier yang lebih baik serta tingkat keamanan pekerjaan yang lebih tinggi.
“Kami melihat perubahan yang sangat jelas. AI bukan lagi sekadar minat khusus di kalangan profesional keuangan. Kini AI telah menjadi prioritas utama dalam pengembangan profesional,” demikian kata Leung, seperti dikutip dari The Staits Times, Senin 22 Juni 2026.
Salah satu peserta, Jessie To, Chief Financial Officer RELC International, baru-baru ini menyelesaikan kursus AI Systems for Financial Reporting and Audit Compliance yang diselenggarakan ACCA.
Menurutnya, alat AI mampu mengotomatisasi berbagai pekerjaan rutin di bidang keuangan, meningkatkan akurasi data, serta memperkuat kemampuan deteksi risiko. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu, seperti menyusun materi presentasi dan mengidentifikasi transaksi tidak wajar, kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit.
“Bagi sebagian peserta, kursus AI bahkan membuka peluang karier baru,” imbuhnya.
Sementara itu, Joshua Lau yang telah lebih dari dua dekade berkarier di bidang pengembangan bisnis, pendidikan tinggi, dan ekonomi digital, baru saja menyelesaikan kursus AI generatif di Heicoders. Ia mengatakan program tersebut semakin memantapkan keputusannya untuk beralih ke bidang rekayasa AI dan otomatisasi alur kerja.
Lau membayar 643,50 dolar Singapura setelah subsidi untuk mengikuti program intensif selama tiga hari di kampus Heicoders di Kreta Ayer.
“Saya sama sekali tidak menyesal,” ujarnya.
Ia mengaku kursus tersebut membantunya memperoleh posisi Managing Director di sebuah perusahaan energi terbarukan di Malaysia yang sedang menjalani transformasi berbasis AI.
Menurut Lau, keterampilan paling berharga yang diperolehnya bukanlah kemampuan teknis, melainkan kemampuan berpikir.
“Kursus ini mempertajam kemampuan berpikir kritis dan kemampuan saya dalam mengevaluasi berbagai pilihan ketika merancang solusi, kapan harus mengotomatisasi, kapan tidak, alat apa yang layak digunakan, dan berapa biaya sebenarnya dari sebuah keputusan,” katanya.
Lau menambahkan, dalam dunia AI kemampuan mengambil keputusan tingkat tinggi jauh lebih penting ketimbang sekadar memahami kode teknis.
Senada, para penyedia pelatihan sepakat mengatakan daya tarik kursus AI tidak hanya sebatas mempelajari cara menggunakan chatbot seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini. Banyak peserta justru ingin memahami secara lebih mendalam bagaimana sistem AI dapat diterapkan dalam berbagai situasi nyata.
Adapun Chan Yu Siang, insinyur perangkat lunak sekaligus instruktur AI di Heicoders Academy mengatakan, kursus AI yang paling bermanfaat adalah yang membantu peserta memahami cara kerja sistem AI.
“(Salah satunya) mengenali keterbatasannya, serta mengetahui bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara bertanggung jawab. Profesional paling berharga di masa depan belum tentu mereka yang memiliki pengetahuan paling banyak,” jelasnya.
Siang memaparkan, mereka adalah orang-orang yang mampu secara konsisten menggabungkan keahlian manusia dengan kemampuan AI untuk memecahkan masalah, menciptakan nilai tambah, dan menghasilkan hasil nyata.
Wayan Susena, The StraitsTimes








