Kemdiktisaintek Dorong Riset Berdampak untuk Masyarakat Pesisir

77
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Perubahan iklim menjadi tantangan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara maupun satu disiplin ilmu. Berangkat dari semangat tersebut, Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Annual Meeting 2026 mempertemukan peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan mitra pembangunan dari Indonesia dan Australia untuk memperkuat kolaborasi riset dalam menghasilkan solusi berbasis sains bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan,  Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., menegaskan, paradigma riset perlu bergeser dari sekadar menghasilkan luaran akademik menuju penelitian yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Di tengah kompleksitas persoalan perubahan iklim, keberhasilan sebuah riset tidak lagi hanya diukur dari jumlah publikasi, tetapi dari kemampuannya menjawab kebutuhan pembangunan melalui kebijakan dan implementasi yang berbasis bukti (evidence-based policy).

Fauzan menjelaskan bahwa orientasi tersebut mulai terlihat melalui berbagai penelitian yang dikembangkan dalam konsorsium PAIR. Sejumlah hasil penelitian telah menunjukkan kontribusi nyata dengan menjadi rujukan dalam proses penyusunan kebijakan di tingkat daerah. Hal tersebut, menurutnya, membuktikan bahwa penelitian mampu melampaui ruang akademik dan menjadi bagian dari upaya menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Inilah yang kami maksud sebagai impact, yang tidak hanya berarti memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi rujukan dan memberikan manfaat bagi pemerintah dalam proses pengambilan kebijakan,” jelas Dr. Fauzan.

Dirinya berharap, para peneliti tidak hanya berfokus pada proyek masing-masing, tetapi membangun keterhubungan antar riset sehingga setiap penelitian dapat saling melengkapi. Dengan kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi, berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, termasuk perubahan iklim dapat dipahami secara lebih utuh sekaligus melahirkan inovasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dr. Fauzan menekankan pentingnya pemahaman terhadap konteks lokal dalam setiap penelitian. Setiap tim peneliti perlu memiliki pemetaan yang jelas mengenai wilayah dan kelompok masyarakat yang akan menerima manfaat dari hasil penelitian atau pathway to impact. Pendekatan tersebut menjadi langkah penting agar implementasi hasil riset telah dirancang sejak awal dan mampu memberikan manfaat yang terukur.

“Harapan kami adalah agar kolaborasi yang telah terbangun menjadi semakin kuat. Sulawesi merupakan penggagas program ini, tetapi ke depan kami ingin menjadikannya lebih inklusif bagi pembangunan di Maluku dan Papua. Melalui keberhasilan konsorsium di Indonesia Timur, kami berharap model ini dapat diperluas ke wilayah lain sehingga memberikan dampak yang semakin besar,” tambah Dr. Fauzan.

Selain memastikan keberlanjutan dukungan terhadap PAIR, Kemdiktisaintek juga mendorong para peneliti memanfaatkan International Research Partnership Program untuk memperkuat kemitraan dengan institusi luar negeri. Program tersebut diharapkan dapat memperluas jejaring kolaborasi, mendukung mobilitas akademik, serta meningkatkan diseminasi hasil penelitian Indonesia pada forum-forum ilmiah internasional.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang menilai perubahan iklim merupakan persoalan lintas batas dengan dampak paling nyata dirasakan oleh masyarakat pesisir. Kenaikan muka air laut, abrasi pantai, perubahan pola cuaca, hingga menurunnya kualitas ekosistem laut menjadi tantangan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi ataupun satu disiplin ilmu.

“Tema mengenai perubahan iklim dan masyarakat pesisir mengingatkan kita bahwa nilai sebuah penelitian tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari sejauh mana penelitian tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, kami berharap setiap riset benar-benar menghadirkan manfaat yang bermakna bagi masyarakat,” jelas Prof. JJ.

Menurutnya, masyarakat pesisir merupakan kelompok yang berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim karena perubahan tersebut secara langsung memengaruhi mata pencaharian, ketahanan pangan, hingga keberlanjutan kehidupan sosial dan budaya mereka. Oleh karena itu, kolaborasi seperti PAIR menjadi ruang strategis untuk mempertemukan peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan masyarakat dalam menghasilkan solusi berbasis sains yang dapat diterapkan melalui kebijakan dan aksi nyata.

Unhas dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan PAIR Annual Meeting 2026 yang berlangsung di Ballroom Unhas, Makassar, Selasa (21/7). Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari keterlibatan aktif Unhas sebagai salah satu institusi dalam konsorsium PAIR Sulawesi yang selama ini mengembangkan berbagai penelitian kolaboratif bersama mitra di Indonesia dan Australia.

Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Annual Meeting 2026 merupakan program unggulan Australia-Indonesia Centre (AIC) yang didanai bersama oleh Pemerintah Australia dan Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan peneliti dari sepuluh universitas di Indonesia dan Australia bersama sembilan perguruan tinggi di Sulawesi untuk mempresentasikan hasil penelitian mengenai dampak perubahan iklim terhadap masyarakat pesisir di Indonesia Timur sekaligus memperkuat kolaborasi riset lintas negara.

Editor: Bali Putra