
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Komoditi ekspor teratas atau produk unggulan kawasan berikat di Sulawesi Selatan mengalami penurunan secara drastis. Terutama produk nikel. Hingga Juli 2026, ekspor produk nikel tercatat 71,13 juta Dolar AS, dari sebesar 251,79 juta Dolar AS pada 2025.
Penurunan drastis, disebabkan dua perusahaan pengguna fasilitas kawasan berikat, tidak lagi beroperasi tahun ini. Padahal, kedua perusahaan tersebut, sebelumnya merupakan penyumbang produk nikel dalam jumlah besar, mencapai 52,32 persen.
Hal itu diakui Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC Sulbagsel), Martha Octavia saat memberi keterangan di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Rabu, 23 September 2026.
“Saya tidak bisa menyebutkan nama kedua perusahaan. Namun, secara volume, bisa saya sampaikan, dari kedua Perusahaan itu mencapai 52,32 persen,” sebut Martha.
Ia menjelaskan, sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan industri yang memadai, Bea Cukai Sulbagsel memfasilitasi industi dari aspek kepabeanan dan cukai berupa fiskal dan non fiskal. Tujuannya, mendorong pertumbuhan nilai ekspor dari sektor pertambangan dan pengolahan yang saat ini mampu menyerap 3.336 tenaga kerja.
“Kanwil Bea Cukai Sulbagsel memfasilitasi 10 kawasan berikat dan satu Kemudahan Impor Tujuan Ekspor atau KITE,” jelasnya.
Dari 10 kawasan berikat, tercatat Bea Masuk (BM) yang dibebaskan Rp16,40 miliar, PPN tidak dipungut Rp52,17 miliar dab PPh tidak dipungut Rp16,10 miliar. Namun, perusahaan penerima fasilitas, telah menyerap tenaga kerja mencapai 3.117 orang.
Sedangkan fasilitas berupa satu KITE, BM dibebaskan Rp22,18 miliar, PPN tidak dipungut Rp51,25 miliar, namun mampu menyerap 219 orang tenaga kerja.
“Dengan fasilitas tersebut, perusahaan pengguna juga telah menambah nilai investasi hingga USD 17,815 juta,” kata Martha.
Di samping menambah nilai investasi, fasilitas kawasan berikat dan KITE juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi, berupa 216 unit usaha rumah tangga, 173 unit usaha kecil, 51 unit usaha sedang, dan 25 unit usaha besar.
“Rata-rata bergerak di bidang perdagangan, akomodasi, makanan dan transportasi,” tambahnya.
Terkait kinerja ekspor impor pengguna fasilitas, mencapai 92,6 juta Dolar AS nilai impor pada 2026 (naik dari 2025 sebesar 52,5 juta Dolar AS) dan nilai ekspor 134,8 juta Dolar AS (turun dari 310 juta dolar AS pada 2025).
Komoditi ekspor teratas kawasan berikat, berupa produk nikel sebesar 71,13 juta Dolar AS, turun drastis dari 251,79 juta Dolar AS pada 2025. Kemudian produk Karaginan sebesar 57,49 juta Dolar AS, naik dari 54,38 juta Dolar AS pada 2025, serta produk Kepiting sebesar 57,49 juta Dolar AS, naik dari 54,38 juta Dolar AS pada 2025.
Bali Putra









