Didominasi Tabungan, Penghimpunan DPK Perbankan di Sulsel Tumbuh 7,23 Persen  

131
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin. POTO: DOK. BISNISSULAWESI.COM

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) terhadap kinerja perbankan tergolong masih tinggi. Terlihat dari jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perbankan, tumbuh 7,23 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp149,46 triliun pada posisi April 2026. Didominasi tabungan dengan share 60,72 persen.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK) Sulselbar, Moch. Muchlasin menyebutkan, pada posisi April 2026, total aset perbankan tumbuh 5,29 persen (yoy) menjadi  Rp215,79 triliun. DPK tumbuh 7,23 persen menjadi Rp149,46 triliun, didominasi tabungan dengan share 60,72 persen, disusul Deposito 22,79 persen dan Giro 16,50 persen.

“Pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan terjaganya kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” ungkap Muchlasin di Makassar, baru baru ini.

Dkatakan, dari sisi penyaluran dana, kredit perbankan tumbuh 5,46 persen menjadi Rp174,60 triliun. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit produktif memiliki pangsa 52,36 persen dan berhasil tumbuh positif 2,64 persen, sementara kredit konsumtif memiliki pangsa 47,64 persen dan tumbuh tinggi 8,74 persen. Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit produktif yang disalurkan pada sektor perdagangan besar dan eceran memiliki porsi terbesar dengan share 21,86 persen dari total penyaluran kredit.

Fungsi intermediasi perbankan juga disebut berjalan baik, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 116,82 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) masih terjaga, berada pada level 3,74 persen.

“Ini menunjukkan, perbankan di Sulsel tetap mampu menyalurkan pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai,” jelas Muchlasin.

Perbankan syariah terus menunjukkan perkembangan positif dengan pertumbuhan aset, penghimpunan dana, dan pembiayaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional pada posisi April 2026.

Total aset perbankan syariah tumbuh 35,92 persen menjadi Rp23,45 triliun, dengan penghimpunan DPK tumbuh 25,87 persen (yoy) menjadi Rp15,33 triliun dan penyaluran pembiayaan juga tumbuh 25,74 persen menjadi Rp18,88 triliun.

Tingkat intermediasi perbankan Syariah berada pada level 123,11 persen dengan rasio Non Performing Financing (NPF) 1,80 persen.

“Pangsa pasar aset perbankan syariah meningkat menjadi 10,87 persen, mencerminkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah serta meningkatnya kontribusi industri perbankan syariah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Kredit UMKM Rp61,66 triliun

Sementara itu, dukungan sektor jasa keuangan terhadap perekonomian daerah juga tercermin dari tetap terjaganya penyaluran kredit kepada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mencapai Rp61,66 triliun atau 36,05 persen dari total kredit perbankan pada posisi April 2026. Meskipun pertumbuhannya relatif moderat (0,31 persen yoy), sektor UMKM tetap menjadi fokus utama pembiayaan perbankan mengingat perannya sebagai penggerak ekonomi daerah, penyerap tenaga kerja, dan penopang aktivitas usaha masyarakat.

Berdasarkan skala usaha, penyaluran kredit UMKM di Sulsel masih didominasi segmen usaha mikro dengan pangsa 56,75 persen, disusul usaha kecil 28,64 persen dan usaha menengah 14,62 persen.

Dominasi kredit pada segmen usaha mikro menunjukkan masih besarnya kebutuhan akses pembiayaan bagi pelaku usaha skala kecil, sekaligus menjadi peluang untuk terus memperkuat ekosistem pembiayaan dan pendampingan usaha guna mendorong UMKM naik kelas. Secara keseluruhan, kredit UMKM telah disalurkan kepada 904.541 debitur.

Editor: Bali Putra