Indocement – Pemkot Makassar, Jajaki Kerja Sama Pengolahan Sampah jadi Alternatif Pengganti Batu Bara

69
Indocement dan Pemkot Makassar lakukan penjajakan kerja sama pengolahan sampah menjadi alternatif pengganti batu bara. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus menjajaki berbagai solusi berkelanjutan untuk mengatasi persoalan sampah, termasuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah menjadi sumber energi alternatif.

Salah satu upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama jajaran Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu, 04 Nopember 2026.

Pertemuan tersebut menindaklanjuti nota kesepahaman Pemkot Makassar dan Indocement yang ditandatangani sebelumnya, terkait pemanfaatan sampah melalui teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF).

Presiden Direktur ITP, Christian Kartawijaya, mengaku siap bekerja sama pengolahan sampah Kota Makassar menjadi bahan bakar alternatif untuk menggantikan sebagian penggunaan batu bara dalam proses produksi semen.

ITP memiliki fasilitas Alternative Fuel Facility di kawasan pabrik Semen Bosowa Maros yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengolahan sampah tersebut.

“Di beberapa daerah, kami mengambil sampah, kemudian dikelola, dicacah, dipilah, dan dipres dijadikan bahan bakar alternatif pengganti batu bara,” jelas Christian seraya mengatakan, fasilitas pengolahan bahan bakar alternatif di Maros, berkapasitas 800 ton RDF per hari.

Jika dikonversi dari sampah mentah, kapasitas tersebut diperkirakan menampung hingga 2.500 ton sampah per hari, tergantung karakteristik dan proses pengolahan.

Sementara itu, Pemkot Makassar tengah mempertimbangkan dua pendekatan dalam penanganan sampah, Waste-to-Energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik dan Waste-to-Fuel atau pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

Kedua pendekatan dinilai dapat saling melengkapi, mengingat pengolahan sampah menjadi energi listrik diperkirakan hanya mampu menangani hingga 30 persen dari total timbulan sampah.

Editor: Bali Putra