Makassar Sasaran Potensial Pengembangan ETF Emas

90
Kepala Departemen Penilaian Emiten, Perusahaan Publik, dan Perizinan Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), I Made Bagus Tirthayatra saat memberi sambutan pada talk show ETF syariah emas dalam rangkaian IIFS 2026 di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Selasa, 03 Nopember 2026. POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Makassar menjadi salah satu kota besar yang menjadi sasaran potensial pengembangan (Exchange Traded Fund) ETF emas, termasuk ETF syariah emas. Pasalnya, daerah yang dikenal dengan sebutan Kota Daeng memiliki masyarakat dengan budaya menggunakan atau memiliki emas yang sangat kental.

Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI), Irwan Abdalloh pada Talk show ETF Syariah Emas yang merupakan salah satu kegiatandalam rangkaian Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2026 di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Selasa, 02 Nopember 2026.

“Di Kota Makassar, emas sudah culture atau budaya. Sudah karakteristiknya,” ungkap Irwan.

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI), Irwan Abdalloh saat menyampaikan sambutan pada Talk show ETF Syariah Emas yang merupakan salah satu kegiatandalam rangkaian Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2026 di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Selasa, 02 Nopember 2026. POTO: BALI PUTRA

ETF syariah emas kata Irwan, merupakan salah satu pilihan investasi yang menarik. Likuiditas dan transaksinya cukup tinggi untuk kategori produk baru.

“Sebelumnya, ketika berbicara mengenai produk pasar modal Syariah, masyarakat pasti tahunya kalau bukan saham Syariah, ya Sukuk atau Reksadana Syariah. Tetapi sekarang, sudah ada produk baru yang bisa menjadi pilihan masyarakat,” katanya.

Berbicara tentang investasi kata Irwan, bukan hanya tentang untung dan rugi. Namun ada dua hal yang harus diperhatikan bagaimana agar nilai aset kita terjaga, dan bagaimana investasi membuat kita tenang dunia dan akhirat.

Adanya ETF syariah emas diharapkan menjadi pintu bagi Indonesia, khususnya masyarakat yang sudah melek investasi, bisa menjadi objek investasi

Poto bersama usai pembukaan talk show ETF syariah emas di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Selasa, 03 Nopember 2026 POTO: BALI PUTRA

Irwan menyebutkan, saat ini sudah ada tujuh produk ETF Emas yang diterbitkan tujuh Manajer Investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan cukup liquid untuk ukuran produk baru (dua bulan). Hingga 29 Oktober 2026 total transaksi mencapai Rp57 miliar dengan jumlah investor 5.026 SID.

“Asset Under Managemen (AUM) per September 2026 mencapai Rp105 miliar. Cukup menarik untuk menjadi alternatif investasi masyarakat,” jelas Irwan.

Dikatakan, berinvestasi di ETF syariah emas tidak susah. Jika masyarakat sudah menjadi investor saham, tidak perlu lagi membuka rekening, karena bisa langsung transaksi dengan rekening yang sama. Di samping itu, ETF syariah emas, tidak semata untuk mereka yang sudah mapan atau anak muda yang sudah “Sultan”,  karena bisa dibeli dengan harga yang wajar untuk kalangan mahasiswa.

Irwan berharap, ETF syariah emas bisa memberikan pilihan bagi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Syariah. Kehadiran portofolio baru ini memberikan ruang lebih luas untuk masyarakat.

Di tempat sama, Kepala Departemen Penilaian Emiten, Perusahaan Publik, dan Perizinan Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), I Made Bagus Tirthayatra menyebutkan, minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal terus meningkat.

Data per September 2026, terdapat lebih dari 32 juta investor. Terjadi peningkatan sangat eksponensial jika mengacu sejarah pasar modal. Di mana, sejak diaktifkannya kembali pasar modal pada 1977 hingga 2014, jumlah investor pasar modal masih di bawah 1 juta.

Namun, dengan berbagai upaya yang dilakukan, termasuk adanya pemasaran dan transaksi online, sehingga terjadi peningkatan yang sangat eksponensial. Ini hal yang harus didukung, bukan hanya inklusinya juga meningkatkan literasinya.

“Kami mendorong pemahaman masyarakat terhadap produk-produk pasar modal, termasuk ETF syariah emas agar semakin meningkat. Karena terpenting dalam berinvestasi adalah membeli dan memahami. Kita pahami dulu, baru beli (Investasi),” katanya.

Jangan sampai masyarakat terjebak berbagai macam penawaran investasi.

Sebagai regulator modal, OJK mengingatkan sejak awal, bahwa dalam kita berinvestasi harus pahami dulu, ini barangnya apa?, resikonya seperti apa?, apakah pihak yang menawarkan sudah berizin OJK?, apakah produknya terdaftar.

“Jadi, ada ada banyak hal yang harus dijawab dulu sebelum memutuskan berinvestasi,” katanya.

Kembali ke jumlah investor yang terus meningkat, kata Made, dari 32 juta lebih investor, sekitar 40 persen merupakan anak muda berusia di bawah 30 tahun. Ini merupakan modal yang sangat baik untuk perkembangan pasar modal Indonesia ke depan.

Jika melihat culture masyarakat Indonesia, emas sudah menjadi bagian dari budaya, dan menjadi instrument lindung nilai yang dapat diandalkan. Tradisi menyimpa emas fisik sudah mengakar kuat dari generasi  ke generasi.

Melihat hal tersebut, di mana dinamika zaman menuntut kecepatan, transparansi, dan keamanan, serta likuiditas yang tinggi, OJK melihat perlunya menjembatani kebiasaan tradisional untuk menyimpan emas tersebut dengan inovasi pasar modal yang modern.

Oleh karena itu, OJK menerbitkan peraturan nomor 2 tahun 2026, yang menjadi landasan dalam hal ETF emas. Instrumen ini memberikan kemudahan akses bagi masyarakat untuk berinvestasi pada emas fisik murni, baik yang bersertifikat standar internasional maupun emas yang berstandar nasional.

Sejak peluncuran perdana 10 Agustus 2026, hingga 30 September 2026 terdapat 7 produk ETF syariah emas yang beredar di masyarakat dengan total nilai AUM nya 105,6 miliar. Penerbitan ETF syariah emas dilakukan enam manajer investasi.

“ETF syariah emas memiliki sejumlah unggulan, diantaranya dari sisi keamanan karena tidak menyimpan emas secara fisik. Kemudian aksesnya mudah, di mana investor bisa bertransaksi secara online. Transparan, serta aspek syariah yang terjaga,” jelasnya.

Hadirkan Empat Narasumber

Talk Show ETF syariah emas menghadirkan empat narasumber diantaranya Azharuddin Lathif yang merupakan pengurus DSN MUI, Dharma Satria Vice President Divisi Bisnis Bulion PT Pegadaian, Hendra Pramudya Head of Dostribution Partnership I Division DIMI, dan Pradapaningsih Kepala Unit Pengembangan Bisnis Produk Terstruktur Divisi Pengembangan Bisnis 2, PT BEI.

Percepat Pengembangan Industri Keuangan Syariah Nasional

Sementara itu, untuk mempercepat pengembangan industri keuangan syariah nasional, OJK menyelenggarakan IIFS 2026 dengan sasaran untuk memperkuat kelembagaan, inovasi produk, dan integrasi ekosistem lintas sektor guna meningkatkan daya saing serta kontribusi industri keuangan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi halal nasional.

Mengusung tema “Strengthening Islamic Finance Ecosystem to Advance Sustainable Halal Economic Growth”, IIFS 2026 pada 2 – 3 November 2026 merupakan penyelenggaraan kedua forum unggulan OJK di bidang keuangan syariah sekaligus pertama kali di Kawasan Timur Indonesia.

Forum ini mempertemukan regulator, pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lain untuk memperkuat koordinasi kebijakan, mendorong inovasi, serta meningkatkan kontribusi keuangan syariah terhadap perekonomian nasional.

Bali Putra