Poltekpar Makassar Gelar Seminar Internasional “Marine Tourism Ecotheology”, Dorong Penguatan Ketahanan Kawasan Pesisir

109
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, BANDA NEIRA – Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar mendorong penguatan ketahanan kawasan pesisir (coastal resilience) melalui penyelenggaraan Seminar Internasional Marine Tourism Ecotheology di Gedung Makatita, Istana Mini, Negeri Nusantara, Pulau Neira, Banda Neira, Maluku, Sabtu, 31 Oktober lalu.

Seminar yang diikuti sekitar 200 peserta secara luring dan daring ini mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah, mitra internasional, praktisi pariwisata, pendidik, serta masyarakat setempat. Kegiatan tersebut menjadi forum pertukaran gagasan mengenai keterkaitan antara keberlanjutan ekosistem laut, nilai-nilai ekologis, pendidikan, dan pengembangan destinasi wisata bahari.

Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kerja Sama Poltekpar Makassar, Muhammad Arfin Muhammad Salim, yang hadir mewakili Direktur, menyampaikan komitmen institusi untuk berkontribusi dalam pengembangan pariwisata dan peningkatan kapasitas masyarakat Maluku.

Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini telah didahului komunikasi dengan Gubernur Maluku sebagai bagian dari upaya membangun sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.

“Pengembangan pariwisata bahari tidak cukup hanya mengandalkan keindahan dan potensi alam. Diperlukan sumber daya manusia yang kompeten, kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, serta tata kelola pariwisata yang memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan ekologis,” ungkap Arfin.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan pengembangan destinasi berjalan secara berkelanjutan.

Pendidikan Pariwisata untuk Membangun Kesadaran Lingkungan

Dalam seminar tersebut, Farid Said dari Poltekpar Makassar turut menyampaikan materi mengenai pentingnya tanggung jawab dan etika dalam pengelolaan sumber daya pariwisata di Banda Neira.

Ia menekankan bahwa pendidikan pariwisata perlu membangun pemahaman generasi muda terhadap karakter dan potensi wilayahnya, termasuk kekayaan bahari, sejarah, dan budaya lokal. Kehadiran siswa sekolah menengah bersama para guru dalam seminar ini dinilai menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran pariwisata dan kepedulian lingkungan sejak dini.

“Generasi muda perlu mengenal dan memahami potensi wilayahnya sendiri. Pendidikan pariwisata tidak hanya memperkenalkan destinasi, tetapi juga menanamkan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, sejarah, dan budaya yang menjadi kekayaan daerah,” jelas Farid.

Ia juga menjelaskan bahwa pendekatan edutourism dapat menjadi sarana pembelajaran yang menghubungkan peserta didik dengan lingkungan alam serta warisan sejarah dan budaya setempat. Dengan demikian, pendidikan berperan dalam membangun pemahaman dan tanggung jawab generasi muda terhadap keberlanjutan destinasi.

Seminar ini diselenggarakan melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Poltekpar Makassar dengan dukungan Centre of Excellence bidang Pariwisata Bahari. Kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi antara Poltekpar Makassar, UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, Universitas Banda Naira, mitra internasional, dan Pemerintah Provinsi Maluku.

Sebagai tindak lanjut, seminar ini juga menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) multipihak yang mencakup kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran pengetahuan, pengembangan inovasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Melalui kegiatan ini, Poltekpar Makassar berharap pengembangan pariwisata Banda Neira dapat berjalan seiring dengan penguatan kapasitas masyarakat dan perlindungan ekosistem pesisir. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk mewujudkan destinasi bahari yang berkelanjutan sekaligus menjaga kekayaan alam dan budaya bagi generasi mendatang.