SIBF 2026, Kepala Perwakilan BI Sulsel Perkenalkan Empat Sektor Utama Andalan Sulampua

89
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda saat memberi sambutan pada pembukaan SIBF 2026 di Hotel Claro Makassar, Rabu, 28 Oktober 2026. POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Sulampua Invesment and Business Forum (SIBF) 2026, resmi digelar di Makassar, Rabu-Kamis, 28-29 Oktober 2026. Pada event tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan (BI Sulsel), Rizki Ernadi Wimanda memperkenalkan empat sektor utama yang menjadi andalan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).

Keempat sektor tersebut, industri pengolahan, pertanian termasuk di dalamnya tanaman pangan, perkebunan dan perikanan, kemudian Sektor Pertambangan, dan sektor perdagangan.

“Namun tantangannya, bagaimana potensi-potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi investasi yang produktif dan kegiatan usaha yang bermanfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Rizki.

Upaya tersebut semakin penting sejalan dengan perkembangan ekonomi di wilayah Sulampua. Di mana, triwulan kedua lalu, perekonomian Sulampua tumbuh 4,36 persen, investasi menguat dari 6,7 menjadi 8,1 persen, sementara ekspor menurun atau melambat dari 8,3 menjadi 4,3 persen.

Kesepakatan ekspor Sulampua komoditas spices, food and beverage, dengan nilai kontrak ekspor Rp191,22 miliar antara UMKM Sulampua dengan buyer dari sejumlah negara, pada pembukaan SIBF 2026, Rabu, 28 Oktober 2026. POTO: BALI PUTRA

“Ini menunjukkan pentingnya menjaga momentum investasi sekaligus memperluas akses pasar ekspor untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Sulampua yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” katanya.

Menjawab tantangan tersebut, BI bersama Pemprov Sulsel terus memperkuat sinergi melalui forum Phinisi Sultan, yang diantaranya diwujudkan melalui penyelenggaran South Sulawesi Invesment Forum dan Anging Mammiri Business Forum (SSIF-AMBF) secara bersamaan sejak 2024. Pada penyelenggaraan tahun lalu, sinergi tersebut menghasilkan 24 komitmen investasi dengan potensi Rp8,55 triliun serta komitmen ekspor sebesar Rp228 miliar.

“Salah satu proyek yang turut dipromosikan, PLTB Tolo 2 di Kabupaten Jeneponto, yang saat ini telah memasuki proses tender dengan PLN sebagai bagian dari perkembangan menuju realisasi investasi,” tambahnya.

Melanjutkan capaian tersebut, tahun ini kegiatan SSIF dan AMBF dikembangkan menjadi Sulampua Investment and Business Forum (SIBF) dengan memperluas cakupan dari Sulawesi Selatan, menjadi seluruh wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua.

“Transformasi ini merupakan langkah bersama BI dan pemda di wilayah Sulampua, dalam memperkuat promosi investasi, memperluas akses pasar serta membangun jejaring kemitraan bisnis yang lebih luas antar daerah maupun internasional,” sebut Rizki

Selain perluasan cakupan, SIBF juga diperkuat dengan langkah strategis yakni pemetaan potensi proyek investasi dan UMKM unggulan yang lebih terintegrasi se-Sulampua, penguatan kolaborasi dengan mitra strategis untuk mendukung penyiapan proses proyek investasi dan pengembangan skema pembiayaan.

Dari sisi perdagangan kolaborasi diperluas melalui keterlibatan trading house dan jaringan ritel modern untuk membuka akses pasar UMKM. SIBF 2026, mengusung tema “Advancing Sulampua’s Potensial: From Regional Strengths to Global Value Chains”. Melibatkan 350 peserta dari unsur pemerintah pusat dan daerah, lembaga investasi dan pembiayaan, pemilik proyek, UMKM serta investor, dan mitra perdagangan, baik domestik maupun internasional.

Dari sisi investasi, SIBF 2026 mempromosikan 43 proyek potensial, mewakili seluruh provinsi di Sulampua, 98 one on one meeting, 30 calon investor potensial, dalam dan luar negeri.

Dari sisi perdagangan, rangkaian pengembangan UMKM menuju SIBF 2026, telah menghasilkan komitmen ekspor sebesar Rp450 miliar melalui kemitraan 31 UMKM dengan 44 buyer dari 20 negara. Komitmen tersebut berasal dari empat provinsi yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

“Selain itu, ada tujuh UMKM memperoleh perluasan akses pasar melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern. Capian ini kami yakini akan terus meningkat hingga penutupan SIBF besok,” katanya.

Rizki menyebutkan, keberhasilan SIBF bukan hanya diukur dari jumlah proyek yang dipromosikan maupun banyaknya pertemuan bisnis, terpenting adalah realisasi investasi dan keberlanjutan transaksi perdagangan

Karena itu berbagai penjajakan investasi diharapkan dapat menghasilkan letter of intend (LoI), Memorandum of Understanding atau MOU maupun bentuk kerjasama strategis lainnya yang dapat ditindaklanjuti menuju realisasi investasi

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan, Since Erna Lamba menyebutkan, Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan berbasis sumber daya alam, industri dan konektivitas kawasan.

Berdasarkan peta jalan hilirsasi investasi strategis, Indonesia saat ini memegang peranan krusial sebagai produsen utama global untuk 28 komoditas strategis di 8 sektor pertanian.

Dalam konteks ini, Sulawesi Selatan bukan sekedar penonton melainkan pemain kunci yang menyebabkan angka-angka produksi luar biasa di tingkat nasional maupun global.

“Data terbaru menunjukkan potensi kita sangat masif di sektor perikanan. Di mana, Sulawesi Selatan di posisi ketiga secara nasional untuk produksi perikanan atas sebesar 512.484 ton dari total potensi komoditas ini mencapai 1,1 juta ton,” kata Since.

Sulsel juga disebut sebagai produsen nomor 1 nasional untuk komunitas rumput laut, dengan produksi 4,01 juta ton, serta menjadi penyumbang utama nasional dengan kontribusi 41,97 persen. Begitu pula, produksi udang 74,86 ribu ton, garam 18,9 ribu ton dan tuna cakalang tongkol yang terus menunjukkan tren positif.

Di sektor Perkebunan, Sulsel kokoh sebagai salah satu produsen utama kakao yakni urutan ketiga nasional dengan produksi 79,74 ribu ton dan kelapa sawit yang produksinya terus meningkat mencapai 105,9 ribu ton pada 2025

Sulsel juga memiliki potensial potensi besar pada komunitas kelapa yang menempati urutan 16 nasional dengan produksi 63,72 ribu ton. Begitu juga di sektor kehutanan, Sulsel memiliki hutan pinus 4,16 ribu ton dengan nilai ekspor tinggi untuk memenuhi kebutuhan farmasi global.

“Karena itu, saya mengajak seluruh pemerintah daerah, pemilik proyek, pelaku usaha, dan calon investor, memanfaatkan event SIBF secara optimal, dengan membangun kemitraan yang kompleks dan saliing menguntungkan,” ujar Since.

Sementara itu, pada pembukaan SIBF, Rabu, 28 Oktober 2026, berlangsung penandatangan kesepakatan ekspor Sulampua komoditas spices, food and beverage, dengan nilai kontrak ekspor Rp191,22 miliar antara UMKM Sulampua dengan buyer dari sejumlah negara seperti India, Inggris, Saudi Arabia, Palestina, Tunisia, Mesir, Belanda, Pakistan, Malaysia, dan Singapura.

Bali Putra