
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Bank Hasamitra Makassar turut ambil bagian dalam Finansial Expo (FinExpo) 2026 yang digelar di Trans Studio Mall (TSM) Makassar. Bersama 27 booth lain dari Industri Jasa Keuangan, termasuk booth Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Dalam dua hari dari tiga hari pelaksanaan, Hasamitra telah membukukan transaksi Rp8,917 miliar.
“Sebenarnya kami ditarget Rp7 miliar. Namun, dalam dua hari, transaksi di booth kami (Hasamitra, red) sudah hampir Rp9 miliar,” ungkap Direktur Utama Bank Hasamitra, I Nyoman Supartha di sela-sela pembukaan FinExpo 2026, Sabtu, 03 Oktober 2026.
Berbagai kegiatan FinExpo sudah mulai terlaksana sejak Jumat, 02 Oktober 2026.
Nyoman menyebutkan, selama FinExpo 2026, Hasamitra membuka dua layanan produk, yakni Tabungan dan deposito.
Transaksi sebesar Rp8,917 miliar yang berhasil dibukukan hingga hari kedua, bersumber dari 28 nasabah yakni 9 rekening Tabungan dengan nominal Rp11,6 juta dan 19 rekening deposito dengan nominal Rp8,905 miliar.
Tidak hanya transaksi yang berhasil melampaui realisasi keikutsertaan Hasamitra pada FinExpo tahun lalu, kunjungan masyarakat ke booth Hasakitra juga meningkat mencapai ratusan orang setiap harinya.
Sementara itu, FinExpo 2026 dibuka resmi Wakil Gubernur Sulsel, Fatmawati Rusdi didampingi Ketua DPRD Sulsel, Andi Rachmatika Dewi, Kepala Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar), Moch. Muchlasin bersama panitia, Sabtu, 03 Oktober 2026. FinExpo bakal berlangsung hingga Minggu, 04 Oktober 2026.
Dalam tiga hari pelaksanaan, FinExpo diikuti 28 booth lembaga jasa keuangan (LJK) termasuk Booth Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). FinExpo menargetkan 25 ribu pengunjung dengan transaksi di atas Rp5,5 miliar.
“Jadi, selama tiga hari ini, masyarakat dapat mengunjungi 28 booth untuk mendapatkan pemahaman mengenai lembaga jasa keuangan dan produk yang dijual,” ungkap Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), Moch. Muchlasin.
Ia berharap gelaran FinExpo 2026 mampu mencapai target pengunjung dengan penjualan yang lebih baik atau melampaui realisasi tahun lalu. Di mana, pada FinExpo 2025 realisasi penjaualan Rp5,5 miliar.
“Harapan kami, tahun ini realisasi penjualan melebihi realisasi tahun lalu,” sebutnya.
Muchlasin mengapresiasi seluruh Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan yang terus bersama-sama membangun industri jasa keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ia mengajak semua pihak bersama mewujudkan semangat BIK 2026 sebagaimana tema yang diangkat “Akses Keuangan Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera”.
FinExpo kata Muchlasin, merupakan upaya bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai industri jasa keuangan.
OJK bersama industri jasa keuangan terus mendorong agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap produk dan layanan keuangan, tetapi juga memahami produk yang digunakan.
“Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah adanya kesenjangan antara masyarakat yang sudah menggunakan produk jasa keuangan dengan masyarakat yang benar-benar memahami produk dan layanan tersebut,’ katanya.
Karena itu, kegiatan seperti ini penting untuk mendekatkan industri jasa keuangan dengan masyarakat sekaligus memberikan edukasi mengenai produk, manfaat, risiko, serta cara menggunakan layanan keuangan secara bijak.
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi menyebutkan, masyarakat Sulawesi Selatan saat ini sudah memiliki akses yang cukup luas terhadap jasa keuangan. Namun, masih terdapat kesenjangan sekitar 33 persen antara masyarakat yang telah memiliki akses atau menggunakan jasa keuangan dengan masyarakat yang benar-benar memahami produk dan layanan keuangan.
Karena itu, industri keuangan yang inklusif harus terus dikembangkan, terutama untuk mendukung pelaku UMKM yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Sulawesi Selatan.
FinExpo 2026 diakui bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah untuk mengedukasi masyarakat mengenai produk dan layanan jasa keuangan.
Bagi generasi muda, perkembangan ekonomi dan industri keuangan harus dihadapi dengan dua hal. Pertama, harus mampu melihat potensi yang ada dan menjemput peluang tersebut. Kedua, harus menyadari berbagai risiko dan ancaman yang muncul dalam perkembangan industri keuangan.
“Masih adanya masyarakat yang belum memahami literasi keuangan menunjukkan pentingnya industri jasa keuangan untuk semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan FinExpo 2026 sebagai ruang untuk lebih mengenal produk-produk keuangan yang legal, memahami manfaat dan kegunaannya, memperoleh informasi dan edukasi, serta memahami risiko dari setiap produk keuangan sebelum menggunakannya.
Bali Putra









