Tim Unhas Dorong Hilirisasi Pala di Fakfak Timur

68
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, FAKFAK TIMUR — Pala, salah satu komoditas unggulan Kabupaten Fakfak yang potensial dikembangkan, dan telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis dengan nama Pala Tomandin Fakfak. Selama ini, baru bagian biji dan fuli yang diolah sebagai produk utama. Namun, daging buah dan cangkang pala belum memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Melihat hal tersebut, tim 14 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong pengembangan hilirisasi pala yang ada di Kampung Weri dan Saharey, Distrik Fakfak Timur tersebut dengan dengan melihat peluang pemanfaatan daging buah dan cangkang pala.

Sebagaimana terungkap saat validasi data bersama petani, pemerintah kampung, dan instansi terkait beberapa waktu lalu.

Di Kampung Weri dan Saharey, luas kebun masyarakat rata-rata dua hektare per petani. Produksinya bervariasi, antara 1.000 hingga 40.000 buah pala pada setiap musim panen.

Namun, potensi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah kendala. Pengelolaan kebun umumnya dilakukan secara tradisional, sementara petani menghadapi persoalan cuaca, serangan hama, serta keterbatasan akses menuju kebun. Begitu juga pada tahap pengolahan.

Berdasarkan kalkulasi awal Tim Ekspedisi Patriot Unhas, setiap 10.000 buah pala berpotensi menghasilkan 0,79 ton hasil samping dan limbah.  Keterbatasan pengetahuan teknis, teknologi pengolahan, peralatan, serta akses pasar menjadi sejumlah faktor yang membuat hasil samping pala belum berkembang menjadi produk bernilai ekonomi.

Perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Fakfak menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dan pengembangan produk olahan pala, seperti manisan, selai, dan sirup.

Ketua Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas, Ira Taskirawati, mengatakan hasil validasi merupakan dasar untuk menyusun program tindak lanjut yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

“Selain biji dan fuli, potensi pala di Weri dan Saharey menghasilkan daging buah dan cangkang yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. Ini potensial untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, hilirisasi perlu dibangun melalui penguatan kapasitas masyarakat, penerapan teknologi yang sesuai, penguatan kelembagaan, serta pengembangan akses pasar,” ujar Ira.

Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas bersama masyarakat dan instansi terkait akan memfokuskan pendampingan pada pemanfaatan hasil samping dan limbah pala.  Program ini juga mencakup penguatan kelembagaan kelompok, pengembangan produk turunan pala, pemetaan akses pasar, serta pendampingan pengelolaan dan budidaya tanaman pala. Langkah ini diarahkan untuk membangun model hilirisasi yang memperkuat kapasitas dan kelembagaan ekonomi masyarakat.

Kegiatan ini melibatkan 38 peserta yang terdiri atas petani pala, pemerintah kampung, dan perwakilan instansi terkait. Narasumber yang hadir, Syaiful Bahri Alkatiri dari Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak dan Hasan Jasir Iha dari Bapperida Kabupaten Fakfak).

Focus Group Discussion (FGD) Validasi Data Potensi Pala, Limbah Pala, dan Permasalahan Hilirisasi digelar Tim 14 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin 2026, Jumat, 4 September 2026, di SMP Negeri Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak.

Editor: Bali Putra