BI Sulsel Dorong Penguatan Ekosistem Pariwisata Ramah Muslim

154
Forum diskusi kajian IMTI 2026 yang berlangsung di ruang rapat Sipakainge Lantai 2 KPwBI Sulsel, , Rabu, 2 September 2026. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Merealisasikan dukungan terhadap pengembangan ekosistem pariwisata ramah Muslim, sekaligus pengembangan ekonomi dan keuangan syariah (EKSyar)di daerah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (KPwBI Sulsel) bersama Pemprov Sulsel menggelar Diskusi Kajian Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026, Rabu, 2 September 2026.

Forum yang berlangsung di Ruang Rapat Sipakainge, Lantai 2 KPwBI Sulsel, dibuka Deputi Kepala BI Sulsel, Firman Hidayat. Dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulsel, Andi Mirna, Ekonom Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Annisa Elma Nabila, Tim Kajian IMTI Pusat dari Enhai Halal Tourism Center (EHTC) Politeknik Pariwisata NHI Bandung dan CrescentRating; asosiasi pariwisata; serta berbagai pemangku kepentingan terkait.

Event ini menjadi rangkaian kajian dan asesmen IMTI 2026, termasuk pelaksanaan site visit. Sulsel menjadi salah satu dari 14 provinsi yang mengikuti asesmen IMTI 2026 dan masuk 15 besar tahap penentuan rating dan ranking Destinasi Wisata Halal Unggulan Indonesia Tahun.

“Pelaksanaan IMTI menjadi momentum penting bagi Sulsel untuk memperoleh pemetaan lebih komprehensif mengenai kesiapan dan perkembangan ekosistem Pariwisata Ramah Muslim, sekaligus mengidentifikasi ruang penguatan ke depan,” ujar Firman Hidayat.

Pemetaan menjadi pijakan untuk merumuskan tiga area penguatan utama dalam pengembangan ekosistem Pariwisata Ramah Muslim di Sulsel, destinasi wisata ramah muslim dapat memberikan pengalaman yang baik kepada wisatawan, mulai kemudahan konektivitas, kebersihan, keamanan, akses informasi hingga kemudahan bertransaksi.

Destinasi wisata muslim  memiliki standar layanan global yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan muslim, namun tetap nyaman dan menarik bagi wisatawan lain dari berbagai negara, budaya serta latar belakang. Memiliki linkage dengan potensi unggulan lokal seperti UMKM dan kuliner.

”Penguatan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, mulai pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, UMKM, komunitas, asosiasi, hingga lembaga terkait,” katanya.

Kolaborasi diharapkan dapat membangun ekosistem Pariwisata Ramah Muslim yang semakin terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat halal value chain di Sulsel.

BI Sulsel berharap hasil asesmen IMTI 2026 tidak hanya menjadi dasar penilaian rating dan ranking, juga menjadi referensi bersama dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan Pariwisata Ramah Muslim di Sulsel.

Melalui sinergi tersebut, pelaksanaan IMTI 2026 diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Sulawesi Selatan dalam peta destinasi ramah muslim nasional,  juga memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata dan rantai nilai halal.

Editor: Bali Putra