Es Pallubutung New Lorita Hadirkan Cita Rasa Kudapan Klasik Makassar di Kupang

101
Es Pallubutung. POTO: WAYAN SUSENA

 

BISNISSULAWESI.COM, KUPANG – Masyarakat Kota Kupang kini tidak perlu jauh-jauh ke Makassar untuk menikmati Es Pallubutung, salah satu kudapan tradisional khas Sulawesi Selatan. Hidangan berbahan dasar pisang yang identik dengan cita rasa manis dan gurih ini kini menjadi salah satu menu andalan di Rumah Makan New Lorita, Jalan Merdeka, Oeba, Kota Kupang.

Es Pallubutung merupakan kuliner khas Bugis-Makassar yang telah lama dikenal sebagai sajian ikonik Nusantara. Bersama Es Pisang Ijo, hidangan ini kerap menjadi menu favorit saat berbuka puasa pada bulan Ramadan. Meski sekilas memiliki tampilan yang hampir serupa, keduanya memiliki karakteristik dan cita rasa yang berbeda.

Owner sekaligus Head Chef Rumah Makan New Lorita, Ricky Chandra menjelaskan, Pallubutung dibuat dari bubur berbahan tepung beras, santan, gula pasir, daun pandan, vanili, dan garam yang dimasak hingga mengental. Setelah matang, bubur dipadukan dengan potongan pisang raja kukus sebagai bahan utamanya.

“Keunikan Pallubutung adalah dapat dinikmati dalam dua cara, yakni disajikan dingin dengan tambahan es serut ataupun hangat. Keduanya menggunakan saus yang sama berupa bubur sumsum yang dipadukan dengan sirup merah sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih dan manis,” ujar Ricky saat ditemui Kamis 6 Agustus 2026.

Di New Lorita, satu porsi Es Pallubutung dijual dengan harga Rp20 ribu.

Menurut Ricky, masih banyak masyarakat yang belum dapat membedakan Es Pallubutung dengan Es Pisang Ijo karena keduanya sama-sama disajikan menggunakan bubur sumsum, sirup merah, dan es serut.

Ia menjelaskan, perbedaan paling mendasar terletak pada jenis pisang yang digunakan. Es Pallubutung umumnya menggunakan pisang raja, sementara Es Pisang Ijo lebih banyak memakai pisang kepok.

“Pemilihan jenis pisang dilakukan untuk menghasilkan karakter rasa yang khas. Namun, dalam perkembangannya, pelaku usaha kuliner juga dapat menyesuaikan jenis pisang dengan ketersediaan bahan dan preferensi konsumen tanpa menghilangkan identitas hidangan tersebut,” katanya.

Selain jenis pisang, perbedaan lainnya terlihat dari tampilannya. Pada Es Pisang Ijo, buah pisang dibungkus adonan tepung beras yang dicampur santan dan diberi pewarna alami dari daun pandan sehingga berwarna hijau. Sementara itu, Es Pallubutung disajikan tanpa lapisan pembungkus sehingga tekstur pisang lebih terasa.

Dari sisi penyajian, kedua hidangan sama-sama menggunakan bubur sumsum, sirup merah, dan es serut. Namun, Es Pisang Ijo umumnya disajikan dengan beragam pelengkap, seperti keju parut, meses, kacang tanah, maupun susu kental manis, sedangkan Es Pallubutung lebih mempertahankan penyajian yang sederhana dengan menonjolkan cita rasa pisang dan bubur sumsumnya.

Dengan semakin banyaknya rumah makan yang menghadirkan kuliner khas daerah di luar wilayah asalnya, Es Pallubutung menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan kuliner tradisional Indonesia terus dikenal dan dinikmati masyarakat lintas daerah tanpa kehilangan cita rasa autentiknya.

Wayan Susena