OJK Sebut SJK Stabil di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Tekanan Inflasi

89
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, JAKARTAOtoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global. Kestabilitas SJK didukung bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai.

Penilaian ini merupakan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKP) OJK yang berlangsung 29 Juli lalu.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menyebutkan, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat menyusul gagalnya gencatan senjata antara AS dan Iran di awal Juli 2026. Eskalasi konflik kembali mendorong kenaikan harga minyak.

Pada Juli 2026, IMF merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen, di bawah proyeksi April 2026 sebesar 3,1 persen, sebagai dampak perang yang berkepanjangan, namun perkembangan investasi AI menjadi upside risk yang menyeimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Di sisi lain, AS mengeluarkan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang, menggantikan tarif sementara yang berakhir 24 Juli 2026. Naiknya tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut.

Indikator perekonomian global mengalami divergensi antarnegara dengan aktivitas manufaktur di negara maju menunjukkan perbaikan lebih kuat, sementara pertumbuhan manufaktur di negara berkembang relatif lebih terbatas.

Di Amerika Serikat, inflasi termoderasi dengan aktivitas ekonomi relatif stabil. Sementara di Tiongkok, rilis data kuartal II menunjukkan level pertumbuhan ekonomi terendah sejak akhir 2022 dengan konsumsi dan investasi swasta yang masih lemah dan ekspor tetap menjadi penopang utama. Di Eropa dan Inggris, inflasi juga menunjukkan tren penurunan.

Pasar keuangan global bergerak mixed di tengah kembali tereskalasinya konflik di Timur Tengah. Outflow nonresiden di pasar keuangan global kembali terjadi, meskipun intensitasnya mulai menunjukkan moderasi.

Di sisi domestik, tekanan harga mereda dengan inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen yoy. Sementara aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi dengan PMI sebesar 50,2.

“Berdasarkan perkembangan tersebut, stabilitas sektor keuangan tetap terjaga didukung bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai,” kata Friderica.

Pasar saham domestik menunjukkan arah penguatan pada Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.236,13, menguat 10,51 persen secara mtm, namun terkoreksi 27,88 persen ytd. Resiliensi dan likuiditas pasar modal dalam negeri secara umum terjaga.

Dari sisi kinerja intermediasi perbankan, OJK melihat tren penguatan dengan profil risiko terjaga. Juni 2026, kredit tumbuh terakselerasi ke 12,67 persen yoy menjadi Rp9.081 triliun, Mei 2026 tumbuh 11,51 persen yoy.

Pada sektor PPDP, aset industri asuransi Juni 2026 mencapai Rp1.184,72 triliun atau naik 1,86 persen yoy dari posisi yang sama di tahun sebelumnya. Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp967,75 triliun atau naik 2,97 persen yoy.

Kinerja asuransi komersil berupa akumulasi pendapatan premi periode Juni 2026 mencapai Rp170,98 triliun, atau tumbuh 2,84 persen yoy, terdiri dari premi asuransi jiwa yang tumbuh 8,40 persen yoy dengan nilai Rp94,83 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi terkontraksi 3,33 persen yoy dengan nilai Rp76,15 triliun.

Di sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML), piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh 1,88 persen yoy Juni 2026 menjadi Rp511,26 triliun, didukung meningkatnya pembiayaan modal kerja 6,36 persen yoy.

Editor: Bali Putra