Semester I-2026, Perbankan di Sulsel Himpun DPK Rp3,16 Triliun, Kredit Disalurkan Rp3,38 Triliun

108
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen dan Perizinan LJK, Arif Machfoed, dan Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan, Ahmad Murad saat memaparkan perkembangan sektor perbankan di Kantor OJK Sulselbar Makassar, Senin (03/08/2026). POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Dalam enam bulan pertama 2026, perbankan di Sulawesi Selatan (Sulsel) menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp3,16 triliun dengan kredit yang disalurkan Rp3,38 triliun.

Pada Desember 2025, DPK perbankan di Sulsel sebesar Rp146,61 triliun menjadi Rp149,77 pada posisi Juni 2026. Kredit disalurkan pada posisi Desember 2025 sebesar Rp177,92 triliun menjadi Rp176,30 triliun pada posisi Juni 2026.

Sementara dari sisi aset, tidak ada pertumbuhan di sepanjang Semester I-2026 (Desember 2025 – Juni 2026) dengan bertahan diangka Rp214,32 triliun.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar), Moch. Muchlasin memaparkan hal tersebut di Kantor OJK Sulselbar Makassar, Senin (03/08/2026).

“Kinerja perbankan di Sulsel pada posisi Juni 2026, masih menunjukkan pertumbuhan positif. Kinerja intermediasi relatif cukup tinggi dengan LDR 117,71 persen, namun tetap didukung kualitas kredit atau NPL di level terkendali 3,70 persen,” ujarnya.

Muchlasin menjelaskan, DPK perbankan di Sulsel didominasi tabungan Rp92,03 triliun atau 61,45 persen, disusul deposito Rp33,96 triliun (22,68 persen), dan giro Rp23,77 triliun (15,87 persen).

Sementara kredit yang disalurkan didominasi kredit produktif mencapai Rp91,89 triliun atau sekitar 52,28 persen, dengan penyaluran tertinggi di kota Makassar, disusul Palopo, dan Bone di posisi dua dan tiga tertinggi. Kemudian kredit konsumsi sebesar Rp82,50 triliun atau 47,72 persen.

Sementara berdasarkan lapangan usaha, kredit yang disalurkan terbesar ke sektor perdagangan besar dan eceran, kemudian pertanian, perburuan dan perkebunan, dan industri pengolahan.

Bali Putra