Gelar KKS X Digifest 2026, BI Dorong UMKM Naik Kelas, Bidik Pasar Global

108
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda saat memberi sambutan pada pembukaan KKS X Digifest 2026, Selasa (28/07/2026). POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Bank Indonesia Sulawesi Selatan (BI Sulsel) terus memperkuat peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mendorong ekonomi kreatif berbasis budaya, serta mempercepat digitalisasi sistem pembayaran di Sulsel.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan ekonomi kreatif menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya menghasilkan nilai tambah, juga memperkuat identitas budaya dan mendorong inovasi.

“Secara nasional, sektor ekonomi kreatif berkontribusi sekitar 7 persen terhadap perekonomian dan menyerap sekitar 18,7 persen tenaga kerja, dengan subsektor unggulan meliputi fashion, kriya, dan kuliner,” ujar Rizki saat membuka Karya Kreatif Sulawesi Selatan (KKS) dan South Sulawesi Digital Festival (Digifest) present Wastra Heritage Market 2026 di Atrium Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar, Selasa (28/07/2026).

KKS dan Digifest berlangsung hingga 2 Agustus 2026, merupakan kolaborasi Bi Sulsel dengan Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Makassar, dan menjadi rangkaian Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) dan Festival Ekonomi Keuangan Digital (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026.

Pembukaan KKS X Digifest 2026 ditandai pemakaian wastra Sulsel, Selasa (28/07/2026). POTO: BALI PUTRA

Menurut Rizki, pengembangan UMKM, khususnya sektor fashion dan wastra, perlu terus didorong melalui peningkatan kualitas produksi, penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, serta akselerasi transformasi digital agar mampu meningkatkan daya saing di tengah persaingan yang semakin kompetitif.

“Sulsel memiliki potensi besar pada sektor wastra, kerajinan, aksesori, dan budaya yang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi daerah. Potensi tersebut dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, hingga memperluas pasar ekspor,” sebutnya.

Oleh karenanya, digitalisasi pembayaran menjadi salah satu kunci dalam memperkuat dan memperluas jangkauan ekonomi kreatif. Sehungga penting pengembangan ekonomi kreatif berjalan seiring dengan penguatan ekonomi dan keuangan digital.

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda bersama Sekda Sulsel, Jufri Rahman saat memberi keterangan kepada pers usai pembukaan KKS X Digifest 2026, Selasa (28/07/2026). POTO: BALI PUTRA

Pada penyelenggaraan KKS dan Digifest 2026, BI Sulsel menerapkan lima strategi utama, perluasan akses pasar, perluasan akses pembiayaan, penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, pengembangan ekonomi syariah, dan percepatan digitalisasi sistem pembayaran.

Pada aspek perluasan pasar, BI Sulsel memfasilitasi business matching, pameran UMKM, fashion show, dan talkshow. Kolaborasi bersama IFC Chapter Makassar pada Pekan Ekonomi Syariah (PESYAR) tahun ini, BI Sulsel sukses memfasilitasi business matching dengan penjualan lebih dari Rp4,4 miliar.

Pada penyelenggaraan AMB Business Fair 2025, 30 UMKM binaan BI membukukan komitmen ekspor Rp228 miliar dengan 17 negara tujuan. BI Sulsel terus melakukan pendampingan agar komitmen tersebut terealisasi menjadi transaksi ekspor.

Di bidang pembiayaan, BI Sulsel menggandeng beberapa bank menggelar workshop yang diikuti 140 UMKM, untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam menyusun proposal pembiayaan, pencatatan keuangan, serta mempertemukan UMKM dengan lembaga pembiayaan.

Sementara penguatan ekonomi kreatif direalisasikan melalui lomba desain motif wastra Sulsel dan Inspiration Talk bertema “Wastra Tradisional Reimagined: Discover the Future of Fashion”.

BI Sulsel ingin melahirkan inovasi baru yang mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus mendorong kreativitas masyarakat dalam mengembangkan motif wastra lokal.

Pada sektor ekonomi syariah, BI Sulsel bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Sulsel melalui program penghimpunan wakaf produktif menggunakan aplikasi Satu Wakaf Indonesia yang mendukung pemberdayaan ibu rumah tangga melalui program Pekarangan Pangan Terpadu di Kabupaten Bone.

Sementara percepatan digitalisasi dilakukan melalui edukasi, implementasi QRIS dan QRIS TAP, serta berbagai kompetisi yang melibatkan masyarakat.

BI Sulsel berharap KKS dan Digifest present Wastra Heritage Market 2026, memperkuat ekosistem UMKM  Sulsel semakin adaptif, berdaya saing, dan siap memasuki era ekonomi digital.

“Wastra tidak hanya menjadi representasi kekayaan budaya Sulsel, juga bagian penting pengembangan industri kreatif yang didukung inovasi teknologi digital, akses pembiayaan, dan perluasan pasar. Semoga semakin banyak masyarakat memahami dan memanfaatkan layanan keuangan digital, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar pengembangan UMKM, ekonomi kreatif berbasis budaya, dan ekosistem digital yang inklusif, terwujud,” tutur Rizki.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Wastra Heritage Market 2026, Andi Putri Anzho mengatakan, selain menghadirkan pameran produk wastra, Wastra Heritage Market juga menjadi ruang kolaborasi pelaku industri kreatif. Pertemuan perajin, desainer, pelaku UMKM, komunitas, hingga masyarakat untuk saling berbagi ide, memperluas jejaring, dan bersama-sama mengangkat potensi wastra Nusantara.

“Kami berharap, kegiatan ini menjadi tempat berbelanja, menikmati pameran, sekaligus tempat lahirnya inovasi dan kerja sama baru  untuk peningkatan daya saing UMKM wastra,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman menyebutkan, pemerintah pusat menaruh perhatian besar terhadap pengembangan industri kreatif, karena potensinya sangat besar dan nilainya tidak terbatas.

Oleh karena itu, kita harus menjadikan wastra sebagai pilihan dan kebanggaan masyarakat Indonesia hingga mampu dikenal di tingkat nasional.

“Apresiasi terhadap produk wastra lokal akan mendorong peningkatan nilai ekonomi para perajin,” katanya.

Saat ini, dibutuhkan membangun inkubator untuk mempertemukan perajin wastra, desainer, dan pelaku industri kreatif dalam satu wadah untuk berbagi ide, meningkatkan kualitas produk, sekaligus memperkuat daya saing.

“Karena itu, kegiatan seperti pameran sangat penting untuk terus dilakukan. Melalui pameran, produk lokal dapat diperkenalkan kepada masyarakat sekaligus membuka peluang terjadinya transaksi. Tahap awal transaksi mungkin masih kecil. Namun, jika dilakukan konsisten, nilainya akan terus tumbuh dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Menurut Jufri, ini harus menjadi gerakan bersama agar wastra lokal semakin dikenal, dihargai, dan memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi.

Bali Putra