Eksportir Mulai Rasakan Dampak “Direct Call” Bitung-China, Hemat 1.000 USD per Kontainer

94
Kepala Bidang Fasilitas Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Bea Cukai Sulbagtara), Adeltus Lolok poto bersama di sela-sela kunjungan asistensi ekspor ke PT Benteng Laut Sejahtera (BLS) di Bitung, Sulut, Selasa (26/05/2026). POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, BITUNG –  Program ekspor langsung atau Direct Call dari Pelabuhan Bitung ke China mulai berdampak bagi pelaku usaha di Sulawesi Utara (Sulut). Selain memangkas waktu pengiriman secara signifikan, jalur pelayaran langsung ini juga menurunkan biaya logistik sehingga meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia Timur di pasar internasional.

Hal tersebut terungkap ssaat kunjungan asistensi ekspor yang dilakukan Kepala Bidang Fasilitas Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Bea Cukai Sulbagtara), Adeltus Lolok, ke PT Benteng Laut Sejahtera (BLS) di Bitung, Sulut, Selasa (26/05/2026). Perusahaan tersebut merupakan eksportir produk olahan tuna berupa frozen loin yang dipasarkan ke Vietnam dan Thailand.

Direktur Utama PT BLS, Alexandre Sarumaha, mengatakan, selama ini pengiriman ekspor dari Bitung melalui jalur lebih panjang, yakni harus transit ke Jakarta atau Surabaya, kemudian ke Singapura sebelum diteruskan ke negara tujuan di Asia Tenggara.

“Rute tersebut membuat waktu pengiriman bisa mencapai 40 hari. Kondisi ini tentu memengaruhi kualitas produk karena komoditas kami adalah produk perikanan beku. Selain itu, arus kas perusahaan juga menjadi kurang efisien karena pembayaran dari pembeli diterima lebih lama,” ujar Alexandre.

Dikatakan, pemanfaatan layanan Direct Call dari Bitung membuat produk tuna kini tiba di Vietnam maupun Thailand hanya dalam 10 hari. Selain lebih cepat, biaya pengiriman juga lebih rendah sehingga harga produk menjadi lebih kompetitif.

“Dengan Direct Call, kualitas produk tetap terjaga dan pembayaran dapat diterima lebih cepat. Dari sisi biaya, kami bisa menghemat sekitar 1.000 dollar AS per kontainer,” katanya.

Hingga Mei 2026, sedikitnya telah dilakukan tiga kali uji coba layanan Direct Call dari China ke Bitung. Total muatan mencapai 221 kontainer atau 445 TEUs, dengan komoditas yang diangkut antara lain olahan kertas (bobbin paper), produk perikanan, turunan kelapa, arang kelapa, pala, dan sejumlah komoditas ekspor lainnya.

Pada kesempatan itu, pegiat Sulut Go Ekspor, Alan Harvey, menyoroti masih terbatasnya ketersediaan kontainer internasional di Bitung, sementara potensi ekspor dari Sulut dan kawasan Indonesia Timur terus meningkat.

Menanggapi hal itu, Adeltus Lolok menyebutkan, Bea Cukai bersama berbagai instansi terkait tengah berkoordinasi untuk mencari solusi atas kelangkaan kontainer ekspor di kawasan Indonesia Timur. Menurutnya, keberlanjutan layanan Direct Call perlu dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha.

“Semua pihak saat ini berupaya agar Bitung berkembang menjadi hub logistik untuk mendukung kemajuan Sulut dan Indonesia Timur. Masih ada beberapa regulasi yang dapat ditinjau ulang agar semakin banyak eksportir memperoleh manfaat nyata dari layanan Direct Call,” ujar Adeltus.

Pelabuhan Bitung terus melakukan pembenahan layanan agar kapal internasional memperoleh pelayanan lebih cepat dan efisien saat sandar. Kehadiran jalur pelayaran langsung Bitung menuju kawasan Asia Timur dinilai berpotensi menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Dengan efisiensi logistik yang semakin baik, pemerintah berharap arus ekspor dari Indonesia Timur tidak lagi bergantung pada pelabuhan besar di Pulau Jawa, sehingga distribusi ekonomi nasional dapat menjadi lebih merata.

Editor: Bali Putra