Total Aset Perbankan di Sulsel Rp213,44 Triliun

80
Ilustrasi. Kinerja perbankan di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan pertumbuhan positif, tercermin dari peningkatan total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit. POTO : DOK. BISNISSULAWESI.COM

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kinerja perbankan di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan pertumbuhan positif, tercermin dari peningkatan total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit. Posisi Maret 2026, total aset perbankan tumbuh 4,12 persen (yoy) menjadi  Rp213,44 triliun. Sementara DPK tumbuh 7,33 persen (yoy) menjadi Rp147,41 triliun, dan kredit perbankan tumbuh 5,19 persen (yoy) menjadi Rp174,39 triliun.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat (OJK) Sulselbar), Moch. Muchlasin menyebutkan, dari total aset perbankan di Sulsel Rp213,44 triliun, sebesar Rp209,36 triliun atau 98,09 persen merupakan aset bank umum dan Rp4,08 triliun atau 1,91 persen merupakan aset Bank Perekonomian Rakyat (BPR).

DPK di Sulsel didominasi tabungan dengan share 61,45 persen, disusul Deposito 22,70 persen dan Giro 15,85 persen. Sedangkan kredit perbankan tumbuh 5,19 persen (yoy) menjadi Rp174,39 triliun, tercatat lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu 3,76 persen. Menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi dan permintaan pembiayaan masyarakat.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit produktif memiliki pangsa 52,69 persen, tumbuh positif 2,79 persen (yoy). Kredit konsumtif tumbuh tinggi 8,00 persen (yoy). Dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit produktif disalurkan paling banyak ke sektor perdagangan besar dan eceran dengan share 22,00 persen dari total penyaluran kredit.

“Kinerja intermediasi perbankan di Sulsel terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 118,30 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah di level 3,73 persen,” ujar Muchlasin dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/05/2026).

Ia menambahkan, perbankan Syariah juga tumbuh positif pada posisi Maret 2026. Total aset perbankan syariah tumbuh 30,18 persen (yoy) menjadi Rp22,82 triliun, penghimpunan DPK tumbuh 23,31 persen (yoy) menjadi Rp15,10 triliun dan penyaluran pembiayaan juga tumbuh 24,16 persen (yoy) menjadi Rp18,54 triliun. Tingkat intermediasi perbankan Syariah 122,77 persen dengan rasio Non Performing Financing (NPF) 1,77 persen.

“Meskipun pangsa pasar perbankan syariah masih lebih kecil dibandingkan perbankan konvensional, tren market share perbankan syariah terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir,” sebut Muchlasin.

Pangsa pasar aset perbankan syariah meningkat dari sekitar 7 persen (yoy) pada 2023 menjadi 10,69 persen (yoy) pada posisi Maret 2026. Selain itu, dibandingkan dengan perbankan konvensional, perbankan syariah juga mencatatkan pertumbuhan jauh lebih tinggi pada Total Aset, DPK dan Pembiayaan. Hal ini menunjukkan akselerasi perkembangan dan peningkatan kontribusi perbankan syariah dalam industri perbankan di Sulsel.

Kredit Usaha Mikro

Porsi penyaluran kredit sektor UUsaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap total kredit di Sulsel sebesar 36,17 persen atau mencapai Rp61,80 triliun. Nilai ini tumbuh 0,33 persen (yoy) pada posisi Maret 2026. Menunjukkan, sektor UMKM masih menjadi salah satu fokus utama penyaluran kredit perbankan sebagai penggerak ekonomi daerah, penyerap tenaga kerja, serta penopang aktivitas usaha masyarakat. Meskipun pertumbuhannya relatif moderat, penyaluran kredit UMKM tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi dan tantangan usaha yang dihadapi pelaku UMKM.

Berdasarkan skala usaha, penyaluran kredit UMKM masih didominasi segmen usaha mikro dengan pangsa 56,88 persen, disusul usaha kecil 28,41 persen dan usaha menengah 14,71 persen.

“Dominasi kredit pada segmen mikro mengindikasikan tingginya kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha skala kecil yang memiliki peran penting dalam menopang ekonomi masyarakat. Secara keseluruhan, kredit UMKM telah disalurkan kepada 904.255 debitur,” tambahnya.

Editor: Bali Putra