
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) memilih Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) sebagai salah satu dari sejumlah kota besar di Indonesia, menjadi lokasi dilaksanakannya sosialisasi dan edukasi (SOSEDU) Reksa Dana. Ini dilakukan untuk pemerataan sekaligus mengejar ketertinggalan literasi dan inklusi pasar modal yang selama ini berfokus di luar Pulau Jawa, serta memperluas ekosistem investor di Indonesia.
Kegiatan yang merupakan road to Pekan Reksa Dana 2026, dilaksanakan di Kantor Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar) di Makassar, Kamis (16/04/2026). Melibatkan puluhan jurnalis yang diharapkan dapat menyebarluaskan informasi untuk mendorong peningkatan literasi #Reksa Dana melalui kampanye #ReksaDanaAja dan #PINTAR Reksa Dana.
Dewan Presidium APRDI, Marsangap P. Tamba menyebutkan, Reksa Dana merupakan salah satu instrumen investasi di pasar modal yang dikelola secara profesional oleh Manager Investasi (MI) berpengalaman dan berlisensi.
“Pertumbuhan signifikan industri Reksa Dana pada 2025 mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional,” ujarnya.
Menurut Marsangap, momentum ini perlu terus dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, terutama di kalangan generasi muda yang kini mendominasi komposisi investor.
“Melalui SOSEDU APRDI 2026 dan kampanye #ReksaDanaAja, kami mendorong pendekatan edukasi yang lebih interaktif dan partisipatif agar masyarakat semakin memahami pentingnya investasi yang terencana melalui reksa dana,” tambahnya.
Marsangap menyebutkan, tingkat literasi masyarakat di Sulsel terhadap investasi, khususnya reksa dana relatif masih rendah. Oleh karenanya perlu digencarkan SOSEDU, terutama menyasar kelompok mahasiswa dan pekerja muda. Di mana, investasi sangat penting untuk menjaga nilai uang yang dimiliki masyarakat untuk jangka Panjang agar tidak termakan inflasi.
Reksa dana disebut cocok bagi pemula karena memulai investasi dengan nilai terjangkau, Rp10 ribu.
Marsangap menyebutkan, setidaknya ada enam keunggulan utama reksa dana, diantaranya ramah bagi investor. Di mana, reksa dana merupakan produk yang sangat ideal untuk menjadi starter bagi pemula maupun sebagai diversifikasi bagi investor advance.
Kemudian, reksa dana, dikelola profesional oleh MI berpengalaman dan berlisensi. Reksa dana bebas pajak, sehingga lebih menguntungkan investor. Likuiditas tinggi, sehingga mudah dicairkan kapan saja.
Diversifikasi atau murah, sehingga memungkinkan investor berinvestasi ke berbagai instrument dengan modal terjangkau, serta memiliki akses beragam, di mana reksa dana dapat dengan mudah dibeli melalui berbagai channel.
Marsangap menambahkan, selain memiliki keunggulan, reksa dana juga memiliki empat manfaat diantaranya memenuhi tujuan keuangan jangka pendek hingga panjang, membantu menjaga nilai riil uang sehingga bisa mengalahkan inflasi, cocok untuk pemula maupun investor berpengalaman, dan legal, serta terdaftar dan diawasi OJK.
Namun demikian, reksa dana tentu memiliki risiko seperti pergerakan pasar yang fluktuatif, bergantung pada kondisi ekonomi dan politik, masalah likuiditas dan risiko wanprestasi, serta kerugian nilai investasi yang mungkin terjadi.
“Perlu diingat, risiko investasi tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, namun dapat dipahami dan dimitigasi dengan pengetahuan yang tepat,” sebutnya.
Secara garis besar, ada empat jenis reksa dana yang dibagi berdasarkan alokasi aset, Tingkat risiko, potensi imbal hasil, dan time horizon investasi.
Reksa dana pasar uang, jenis reksadana yang menempatkan 100 persen dana pada instrumen pasar uang, seperti deposito bank dan obligasi jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Berisiko rendah, likuiditas tinggi, dan cocok untuk pemula atau tujuan investasi jangka pendek.
Reksa dana Pendapatan Tetap, jenis reksadana yang mengalokasikan minimal 80 persen aset, bertujuan memberikan potensi imbal hasil stabil dengan risiko menengah, cocok untuk jangka investasi 1-5 tahun.
Reksa dana campuran, instrumen investasi yang menempatkan dana dalam kombinasi aset saham, obligasi (surat utang), dan pasar uang (deposito) dalam satu portofolio, dengan alokasi masing-masing tidak melebihi 79 persen. Produk ini cocok untuk investor profil moderat-agresif dengan tujuan jangka menengah-panjang (3-5 tahun), karena memberikan keseimbangan antara potensi imbal hasil tinggi dari saham dan stabilitas dari obligasi/pasar uang.
Dan, reksa dana saham, wadah investasi kolektif yang menempatkan minimal 80 persen aset pada instrumen saham. Dikelola MI, cocok untuk tujuan jangka panjang dengan profil risiko agresif, menawarkan potensi return tinggi namun dengan Risiko yang juga tinggi.

Sementara itu, Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin mengatakan, dari tiga instrumen pasar modal, reksa dana merupakan instrumen paling diminati investor di Indonesia termasuk di Sulsel, khususnya investor Generasi milenial dan Gen-Z.
Dikatakan, hingga Februari 2026, terdapat 569.610 investor reksa dana di Sulsel, dengan penduduk usia 15–34 tahun mencapai 88,96 juta jiwa, tetapi investor reksa dana usia muda baru sekitar 12,82 persen (data BPS).
“Artinya, ruang peningkatan inklusi investasi masih sangat luas dan perlu didorong secara serius. Karena jika dilihat lebih dalam, potensi tersebut masih sangat besar,” ujar Muchlasin.
Oleh karena itu, bakal diluncurkan secara resmi kampanye nasional Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (PINTAR Reksa Dana) sebagai salah satu inisiatif strategis untuk menjembatani potensi besar tersebut dengan realisasi partisipasi masyarakat lebih luas, di Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta, 27 April mendatang.
Selain itu, Moch. Muchlasin juga menyampaikan pentingnya memahami, bahwa investasi tidak hanya berbicara tentang keuntungan, juga risiko. Edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat dapat berinvestasi secara bijak, mampu memastikan legalitas produk dan memahami manfaat, Risiko, hak, dan kewajiban sebelum berinvestasi.
Bali Putra








