TINGGINYA tingkat risiko kecelakaan di perlintasan kereta api atau perlintasan sebidang menjadi perhatian serius berbagai pihak. Selama ini, faktor kedisiplinan pengguna jalan kerap menjadi sorotan utama. Namun, keselamatan di perlintasan sebidang tidak dapat hanya dibebankan pada perilaku pengguna jalan. Kualitas infrastruktur pendukung juga berperan penting dalam menciptakan ruang lalu lintas yang aman, tertib, dan nyaman.
Pada sejumlah titik perlintasan, area jalan yang bersinggungan langsung dengan rel kerap mengalami kerusakan berupa lintasan yang berlubang dan tidak rata yang dapat menimbulkan hentakan saat kendaraan melintas. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kendaraan tergelincir, terjatuh, atau tersendat, yang memicu perlambatan arus lalu lintas di sekitar perlintasan sehingga dibutuhkan infrastruktur perlintasan yang lebih andal.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keselamatan di perlintasan kereta api, penerapan inovasi infrastruktur di perlintasan sebidang JPL 177, kawasan Gedebage, Kota Bandung, mendapat respon positif masyarakat dan pengguna jalan. Inovasi tersebut dinilai mampu menghadirkan perlintasan sebidang yang lebih aman, nyaman, dan mendukung kelancaran mobilitas masyarakat.

Dalam proses pembangunannya, Industri Karet Bandung atau Inkaba, sebagai salah satu unit usaha PT Agronesia yang merupakan bagian dari BUMD Jawa Barat, turut mengambil peran dalam menciptakan keselamatan dan kenyamanan di perlintasan kereta api. Berkolaborasi dengan PT Wijaya Karya Beton, Tbk (WIKA Beton), Inkaba menghadirkan sistem perlintasan sebidang melalui pemasangan Rubber Concrete Line Crossing pada Concrete Level Crossing (CLC) sebagai satu sistem yang saling melengkapi.
Rubber Concrete Line Crossing merupakan produk unggulan Inkaba yang menjadi bagian dari sistem CLC. Material berbasis karet tersebut berfungsi melengkapi sistem perlintasan agar permukaan jalan menjadi lebih stabil, rata, dan nyaman dilalui. Selain itu, material ini juga membantu meredam getaran serta mengurangi kebisingan saat kendaraan melintasi area rel.
Sementara itu, Concrete Level Crossing (CLC) sendiri merupakan inovasi beton pracetak dari PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) untuk merevitalisasi perlintasan sebidang. Produk ini berupa beton modular pracetak dengan sistem pemasangan knock down yang dirancang agar proses pemasangan dapat dilakukan lebih mudah dan cepat, sehingga dapat meminimalkan gangguan terhadap operasional kereta api maupun kendaraan yang melintas.
Petugas JPL 177 Gedebage mengungkapkan bahwa sebelum dilakukan pembaruan infrastruktur, kecelakaan cukup sering terjadi akibat kondisi aspal di sekitar rel yang rusak. Setelah dilakukan penggantian bantalan rel dan penerapan inovasi tersebut, kondisi perlintasan lebih aman dan arus lalu lintas menjadi lebih lancar, memberikan pengalaman berkendara yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat.
“Sesudah dibangun ini, bantalannya diganti, Alhamdulillah lebih lancar arus lalu lintasnya dan aman,” ujar salah satu petugas JPL 177 Gedebage.
Meski demikian, inovasi infrastruktur yang berkualitas tidak dapat berdiri sendiri. Keselamatan di perlintasan kereta api juga membutuhkan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap rambu dari para pengguna jalan dan pengawasan ketat petugas.
Peristiwa kecelakaan di perlintasan kereta api, termasuk yang terjadi di Bekasi Timur, menjadi pengingat bahwa keselamatan di perlintasan tidak boleh dipandang sebagai persoalan tunggal. Dengan kata lain, inovasi infrastruktur harus berjalan dan perilaku tertib berlalu lintas merupakan upaya menciptakan keselamatan yang saling melengkapi.
Penerapan Rubber Concrete Line Crossing milik Inkaba yang terintegrasi dalam Concrete Level Crossing (CLC) Wijaya Karya Beton, Tbk (WIKA Beton) sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN, diharapkan dapat menjadi solusi nyata dalam menekan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang. Inovasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antarentitas dalam menghadirkan infrastruktur yang lebih aman, nyaman, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. *









