Umat Hindu Makassar dan Maros Arak Ogoh-Ogoh di Kompleks Pura Kostrad Kariango

90
Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026, umat Hindu di Kota Makassar, Maros dan sekitarnya, menggelar kegiatan budaya mengarak ogoh-ogoh, Minggu (15/02/2026). POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAROS – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026, umat Hindu di Kota Makassar, Maros dan sekitarnya, menggelar kegiatan budaya mengarak ogoh-ogoh, Minggu (15/02/2026).

Ogoh-ogoh dengan tema “Ki Buta Raja” yang merupakan hasil karya pemuda Hindu Cakra Bhuwana yang juga prajurit TNI, diarak dari Pura Agung Cakra Bhuwana kemudian keliling seluruh kompleks Kostrad Kariango, Maros.

Berlangsung sekitar dua jam, selain disaksikan umat Hindu, kegiatan mengarak ogoh-ogoh juga disaksikan warga setempat dan para prajurit Kostrad Kariango.

Ogoh-ogoh dengan tema “Ki Buta Raja” yang merupakan hasil karya pemuda Hindu Cakra Bhuwana yang juga prajurit TNI, diarak dari Pura Agung Cakra Bhuwana kemudian keliling seluruh kompleks Kostrad Kariango, Maros. Didukung Sanggar Gita Saraswati Kota Makassar. POTO: ISTIMEWA

Ketua PHDI Sulawesi Selatan, Gede Durahman menyebutkan, tema “Ki Buta Raja” merupakan penggambaran raja buta kala dengan perwujudan seram, sebagai simbol keangkaramurkaan manusia yang tidak bisa mengendalikan Sad Ripu atau enam musuh yang ada dalam dirinya.

Sehingga berperilaku tidak sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana yakni tiga upaya menjaga hubungan harmonis, hubungan harmonis antara manusia dengan sang pencipta, manusia dengan sesame, dan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan.

“Nah, sifat-sifat angkara murka atau Sad Ripu itulah yang memang kita introspeksi saat merayakan kami merayakan Nyepi, dan sifat yang harus terus kita hindari,” ujar Gede.

Dijelaskan, Sad Ripu merupakan enam musuh dalam diri manusia menurut ajaran Hindu, yang terdiri dari hawa nafsu (Kama), keserakahan (Lobha), kemarahan (Krodha), kemabukan (Mada), iri hati (Matsarya), dan kebingungan (Moha).

Sifat-sifat ini menghambat pertumbuhan spiritual dan wajib dikendalikan untuk mencapai kedamaian, kebahagiaan, serta kesejahteraan hidup.

Arakan ogoh-ogoh, diawali dengan pasukan pembawa obor, penari lenda-lendi, kemudian penari rangda (raksasa), barong yang diapit para pasukan pengawal. Selanjutnya, pengarak ogoh-ogoh dan gambelan baleganjur yang merupakan sinergi dengan Sanggar Gita Saraswati dan Banjar Hindu Dharma Makassar.

Selain kegiatan budaya arak ogoh-ogoh, rangkaian perayaan Nyepi juga akan diisi dengan ritual upacara Melasti dirangkai persembahyangan bersama seluruh umat Hindu di Pura Giri Natha Makassar, yang dimulai pukul 14.00 Wita, Selasa, 17 Maret 2026.

Kemudian, upacara pangerupukan dan persembahyangan bersama yang dimulai pukul 17.00 Wita, Rabu, 18 Maret 2026.

“Nah, pas hari Raya Nyepi, Kamis, 19 Maret 2026, kami melaksanakan Catur Brata Panyepian yaitu empat pantangan utama yang wajib dipatuhi umat Hindu selama 24 jam untuk introspeksi diri dan penyucian, meliputi Amati Geni atau tidak menyalakan api/lampu, Amati Karya atau tidak bekerja, Amati Lelungan atau tidak bepergian, dan Amati Lelanguana tau tidak bersenang-senang/hiburan,” sebut Gede Durahman.

Selain melaksanakan ritual keagamaan, serangkaian Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Makassar juga menggelar rangkaian kegiatan sosial seperti berbagai takjil kepada umat Muslim yang hendak berbuka puasa yang dilaksanakan di depan Kompleks Pura Giri Natha Makassar, juga donor darah dan medical check up gratis untuk warga sekitar pura.