
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) menegaskan komitmen memperkuat ekosistem saintek nasional melalui kemitraan multipihak, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Salah satunya, melalui pelaksanaan “Repertoar Saintek 2025”, Sabtu (20/12/2025).
Sebuah forum reflektif dan inspiratif untuk menelusuri bagaimana saintek tumbuh dari kearifan lokal, membentuk ekosistem inovasi, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Forum ini juga dirancang untuk ruang diskusi, sekaligus panggung diseminasi hasil riset yang siap menjawab tantangan nyata masyarakat.
Dalam forum yang dibuka Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, tim riset dari Sulawesi Selatan (Sulsel) tampil membumi, dengan mengangkat penelitian bertema pewarnaan alam dari limbah pertanian. Fokusnya, untuk menjawab persoalan limbah sekaligus memperkuat produk unggulan daerah, yakni sutera dan batik.
Hasilnya bukan sekadar teori. Inovasi pewarnaan alam berbasis limbah ini terbukti meningkatkan nilai jual wastra Sulsel hingga 26 persen. Dampaknya juga terasa secara sosial, dengan melibatkan 18 keluarga perajin, 31 mahasiswa, serta 840 orang dari 23 komunitas dan organisasi.
Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (Polipangkep), Mauli Kasmi, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama Tim Riset Berdikari yang diketuai, Zulfitriany Dwiyanti Mustaka. Mereka membawa produk luaran riset berupa wastra Sulsel bermotif aksara Lontara dengan pewarnaan alam, yang dipamerkan di “The Inclusive Innovation Repertoire 2025”.
Dalam pameran itu, booth Zapa Emas dari Sulsel mendapat kunjungan Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, yang kemudian tertarik dengan kain bermotif aksara Lontara dengan warna gelap, yang terpajang di booth itu.
“Kain ini merupakan hasil pewarnaan dari limbah sabut kelapa yang dikunci dengan fiksator tunjung, sehingga warnanya gelap mendekati hitam,” jelas Ketua Tim Riset, Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, seraya menyebutkan, risetnya berjudul fermentasi dan ekstraksi limbah pertanian menjadi zat pewarna alam pada kain sutera dan batik lontara Bugis.
Zulfitriany menambahkan, pihaknya menargetkan hadirnya wastra Sulsel yang memenuhi standar ecolabeling sesuai kebutuhan konsumen global. Semoga, hilirisasi riset ini diteruskan ke 24 kabupaten dan kota,” ujar tambahnya.
Langkah ini menjadi semakin strategis menjelang 2026. Karena Sulsel dipercaya menjadi tuan rumah HUT Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Sebanyak 38 provinsi akan hadir dari 100 lebih Kabupaten dan Kota, dan Sulsel dituntut tampil sebagai etalase wastra nusantara yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Sementara itu, Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, mengatakan, riset ini menunjukkan bagaimana sains dapat menghadirkan solusi konkret atas persoalan lingkungan sekaligus memperkuat nilai tambah produk lokal.
Pemerintah kata Brian, mengapresiasi dan mendukung penuh terhadap inovasi berbasis daerah.
Dalam forum ini juga dirangkai diskusi yang dibagi dalam dua sesi. Diskusi berlangsung dinamis menghadirkan Anil Kumar Gupta, Ahmad Najib Burhani, dan Sudarto, sebagai narasumber. Umumnya dipaparkan mengenai riset yang wajib berpijak pada kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan. Diskusi sesi I dipandu Yudi Darma.
Sementara sesi kedua menghadirkan Luthfi Adam, Evi Eliyanah, dan Bagus P. Muljadi, sebagai narasumber dengan moderator Audrey Chandra. Sesi ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor agar hasil riset tidak berhenti sebagai laporan ilmiah.
Editor: Bali Putra








