Tak Terpengaruh Kondisi Ekonomi Global, Kinerja Sektor Jasa Keuangan Sulsel Stabil

91
Kepala OJK Sulselbar, Moch. muchlasin. POTO: DOK. BISNISSULAWESI.COM

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar) menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada posisi April 2026 tetap stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi perkembangan geopolitik, peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan.

Stabilitas tersebut tercermin dari kinerja sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang tetap terjaga.

Fungsi intermediasi perbankan berjalan baik, penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit tumbuh positif, partisipasi masyarakat di pasar modal terus meningkat, serta berbagai sektor IKNB menunjukkan perkembangan yang mendukung perluasan akses keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin menyebutkan, posisi April 2026, total aset perbankan tumbuh 5,29 persen secara tahunan (yoy) menjadi  Rp215,79 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,23 persen  menjadi Rp149,46 triliun yang didominasi tabungan dengan share 60,72 persen, disusul Deposito 22,79 persen dan Giro 16,50 persen.

Pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan terjaganya kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan di tengah dinamika ekonomi yang berkembang.

Di sisi penyaluran kredit, tumbuh 5,46 persen menjadi Rp174,60 triliun dengan kredit produktif memiliki pangsa 52,36 persen dan berhasil tumbuh positif 2,64 persen. Sementara kredit konsumtif memiliki pangsa 47,64 persen dan tumbuh tinggi 8,74 persen.

“Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit produktif yang disalurkan pada sektor perdagangan besar dan eceran memiliki porsi terbesar dengan share 21,86 persen dari total penyaluran kredit,” ujar Muchlasin.

Fungsi intermediasi perbankan juga tetap berjalan dengan baik, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) 116,82 persen. Sementara rasio kredit bermasalah terjaga di level 3,74 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perbankan di Sulsel mampu menyalurkan pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai.

Perbankan syariah terus menunjukkan perkembangan positif dengan pertumbuhan aset, penghimpunan dana, dan pembiayaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional. Total aset perbankan syariah tumbuh 35,92 persen menjadi Rp23,45 triliun, dengan penghimpunan DPK tumbuh 25,87 persen menjadi Rp15,33 triliun dan penyaluran pembiayaan juga tumbuh 25,74 persen menjadi Rp18,88 triliun.

Tingkat intermediasi perbankan Syariah berada pada level 123,11 persen dengan rasio Non Performing Financing (NPF) 1,80 persen.

“Pangsa pasar aset perbankan syariah meningkat menjadi 10,87 persen, mencerminkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah serta meningkatnya kontribusi industri perbankan syariah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” sebutnya.

Kredit UMKM

Dukungan sektor jasa keuangan terhadap perekonomian daerah juga tercermin dari tetap terjaganya penyaluran kredit kepada sektor UMKM yang mencapai Rp61,66 triliun atau 36,05 persen dari total kredit perbankan pada posisi April 2026. Meskipun tumbuh relatif moderat (0,31 persen), sektor UMKM tetap menjadi fokus utama pembiayaan perbankan mengingat perannya sebagai penggerak ekonomi daerah, penyerap tenaga kerja, dan penopang aktivitas usaha masyarakat.

Berdasarkan skala usaha, penyaluran kredit UMKM di Sulsel didominasi segmen usaha mikro 56,75 persen, disusul usaha kecil 28,64 persen dan usaha menengah 14,62 persen.

“Dominasi kredit pada segmen usaha mikro menunjukkan masih besarnya kebutuhan akses pembiayaan bagi pelaku usaha skala kecil, sekaligus menjadi peluang untuk terus memperkuat ekosistem pembiayaan dan pendampingan usaha guna mendorong UMKM naik kelas. Secara keseluruhan, kredit UMKM telah disalurkan kepada 904.541 debitur,” tambahnya.

Perkembangan Pasar Modal

Jumlah investor di Sulsel terus meningkat dan mencapai 693.135 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 67,34 persen. Pertumbuhan investor tertinggi tercatat pada reksa dana 68,49 persen. Mencerminkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal serta meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

“Pertumbuhan investor yang tinggi juga menunjukkan semakin kuatnya inklusi keuangan di daerah melalui pemanfaatan berbagai instrumen investasi yang tersedia,” sebutnya

Perkembangan IKNB

Kinerja IKNB juga tetap positif pada perusahaan pembiayaan, fintech peer-to-peer lending, pergadaian, perasuransian, dana pensiun, dan lembaga penjaminan yang mencerminkan semakin beragamnya akses layanan dan pembiayaan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tidak hanya tetap stabil, tetapi juga semakin inklusif dalam mendukung kebutuhan pembiayaan dan pengelolaan keuangan masyarakat.

Kinerja di Sulsel posisi Maret 2026 tumbuh positif di berbagai industri. Penyaluran pembiayaan pada perusahaan pembiayaan tercatat Rp19,27 triliun tumbuh 1,23 persen, sementara itu, total pembiayaan pada perusahaan modal ventura Rp371 miliar atau terkontraksi -2,84 persen. Di sisi lain, layanan keuangan berbasis teknologi juga terus mengalami ekspansi. Outstanding pembiayaan Fintech Peer-to-Peer (P2P) lending mencapai Rp2,52 triliun atau tumbuh signifikan 32,26 persen, yang mengindikasikan meningkatnya pemanfaatan layanan pembiayaan digital oleh masyarakat.

Pertumbuhan tertinggi tercatat pada industri pergadaian dengan total pembiayaan mencapai Rp12,57 triliun atau tumbuh 61,08 persen (yoy). Pertumbuhan pembiayaan pada berbagai sektor mencerminkan semakin beragamnya alternatif akses pendanaan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Di sisi lain, peningkatan kinerja industri perasuransian, dana pensiun, dan lembaga penjaminan menunjukkan semakin kuatnya pemanfaatan instrumen proteksi, mitigasi risiko, serta perencanaan keuangan jangka panjang oleh masyarakat dan dunia usaha.

Total aset Dana Pensiun tumbuh 6,31 persen menjadi Rp1,70 triliun. Adapun nilai penjaminan pada lembaga penjaminan tercatat Rp1,00 triliun atau tumbuh 20,04 persen. Pada industri perasuransian, total premi tercatat tumbuh cukup tinggi sebesar 29,90 persen menjadi Rp984 miliar, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan keuangan dan manajemen risiko.

“Kondisi tersebut menunjukkan sektor jasa keuangan tidak hanya tetap stabil dalam mendukung kebutuhan pembiayaan, juga semakin berperan dalam memperkuat ketahanan keuangan masyarakat dan pelaku usaha melalui berbagai layanan perlindungan dan pengelolaan risiko,” pungkas Muchlasin.

Editor: Bali Putra