PLN Siapkan Penguatan Jangka Panjang Sulbagsel melalui 5,2 GWp PLTS dan 8,2 GWh BESS

90
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) saat berdiskusi bersama jajaran PLN di UP2B Sistem Makassar, (15/9). Pertemuan membahas kondisi sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) serta langkah penguatan ketahanan sistem. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – PT PLN (Persero) terus berupaya meningkatkan keandalan sistem, tidak hanya melalui pemulihan kondisi sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), juga menyiapkan langkah penguatan jangka panjang untuk membangun sistem lebih beragam, fleksibel, dan resilien.

Salah satu langkah strategis dilakukan melalui pengembangan 5,2 gigawatt peak (GWp) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 8,2 gigawatt hour (GWh) Battery Energy Storage System (BESS).

Penguatan menjadi upaya PLN mengembangkan sumber energi lebih beragam sekaligus memperkuat fleksibilitas sistem dalam menghadapi perubahan kondisi pembangkit, termasuk pembangkit berbasis hidro yang sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi.

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) bersama jajaran manajemen PT PLN (Persero) UID Sulselrabar, UIP Sulawesi, dan UIP3B Sulawesi dalam kunjungan ke PLN UP2B Sistem Makassar, 15 September lalu. POTO: ISTIMEWA

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, menilai kondisi kelistrikan di Sulawesi menunjukkan pentingnya kesiapan sistem dalam menghadapi perubahan kondisi alam. Hal ini mengingat pembangkit listrik tenaga air memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pasokan listrik.

Dalam kunjungannya ke kantor PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) Sistem Makassar, 15 September lalu, Sripeni menyebut PLTA mengambil peran sekitar 30 persen dalam sistem kelistrikan Sulawesi, sementara PLTU batu bara mengambil peran sekitar 20 persen.

“Kita semua tahu, kondisi saat ini ada beberapa kombinasi, yaitu dari cuaca, karena kita mengalami masa El Nino yang panas dan kemarau cukup panjang di Sulawesi. PLTA mengambil peran sekitar 30 persen, lalu kemudian PLTU batu bara juga mengambil peran sekitar 20 persen,” kata Sripeni.

Sripeni mengatakan, sejumlah langkah dilakukan untuk menjaga produksi energi selama kondisi kemarau. Salah satunya melalui modifikasi cuaca dan hujan buatan untuk membantu mempertahankan ketersediaan air bagi pembangkit listrik tenaga air. Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara juga diupayakan kembali beroperasi setelah menjalani pemeliharaan.

“Saat ini PLTU Batubara sedang diupayakan untuk masuk kembali setelah mereka melakukan pemeliharaan,” kata Sripeni.

Sripeni juga menyebutkan kondisi kelistrikan Sulawesi Selatan mulai berangsur membaik, ditandai dengan semakin berkurangnya wilayah yang terdampak pengaturan pasokan listrik dalam sepekan terakhir.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun sistem energi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi alam dan ketersediaan sumber energi. Penguatan infrastruktur serta pengembangan sumber pasokan yang lebih beragam menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan.

Sejalan dengan kebutuhan tersebut, PLN menyiapkan pengembangan PLTS dan BESS sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat Sistem Sulbagsel.

PLTS akan menambah sumber pasokan listrik dari energi surya. Sementara itu, BESS berfungsi sebagai sistem penyimpanan energi yang dapat mendukung fleksibilitas sistem ketika produksi pembangkit energi terbarukan berubah maupun ketika daya mampu pembangkit hidro mengalami penurunan.

Dengan kombinasi PLTS dan BESS, sistem kelistrikan diharapkan memiliki pilihan sumber pasokan yang lebih beragam sekaligus kemampuan yang lebih fleksibel dalam menyesuaikan kebutuhan listrik dengan ketersediaan pembangkit.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari penguatan sistem Sulbagsel yang dilakukan secara bertahap. Tahap awal diarahkan pada pemulihan daya mampu pembangkit yang tersedia dan penyiapan pembangkit sementara. Selanjutnya, PLN mendorong penguatan melalui pengembangan PLTS dan BESS hingga 2029.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, mengatakan upaya pemulihan sistem yang saat ini dilakukan PLN berjalan beriringan dengan penyiapan fondasi sistem kelistrikan untuk jangka panjang.

“Kondisi yang kita hadapi saat ini menjadi pembelajaran bahwa sistem kelistrikan membutuhkan sumber pasokan yang beragam. Karena itu, selain melakukan pemulihan dan optimalisasi pembangkit yang ada, PLN juga menyiapkan penguatan sistem dalam jangka panjang melalui pengembangan PLTS dan BESS,” ujar Edyansyah.

Edyansyah mencatat, penguatan sistem Sulbagsel ke depan tidak hanya berorientasi pada penambahan kapasitas pembangkitan, tetapi juga pada kemampuan sistem untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi sumber energi. Pengembangan PLTS dan BESS menjadi bagian dari langkah tersebut untuk menghadirkan sumber pasokan yang lebih beragam sekaligus meningkatkan fleksibilitas sistem.

*/Editor: Bali Putra