BISNISSULAWESI.COM, MAROS – Budidaya ikan nila memerlukan pengendalian yang cermat terhadap berbagai faktor biologis, seperti kualitas air, tingkat kematian ikan, dan efisiensi penggunaan pakan. Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan ikan, meningkatkan biaya produksi, serta menurunkan keuntungan pembudidaya.
Oleh karena itu, pengelolaan budidaya ikan nila kini semakin mengandalkan pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha. Pengelolaan yang dilakukan berdasarkan indikator-indikator ilmiah mampu membantu pembudidaya mengantisipasi berbagai risiko sebelum berkembang menjadi kerugian yang lebih besar.
Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin memperkenalkan pendekatan budidaya ikan nila berbasis sains kepada pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Benteng Gajah, Kabupaten Maros. Melalui bimbingan teknis, peserta mempelajari teknik budidaya, sekaligus pemanfaatan data untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung keberlanjutan usaha.
Ketua Tim, Dr. Alpiani, menjelaskan. dengan memahami parameter teknis, pembudidaya dapat mengambil keputusan secara lebih cepat dan tepat ketika terjadi perubahan kondisi di lapangan. Selama ini banyak pembudidaya mengandalkan pengalaman dan kebiasaan saja.
“Pengalaman tentu merupakan modal yang sangat berharga, tetapi akan jauh lebih optimal apabila dipadukan dengan data. Melalui pemantauan indikator seperti kualitas air, Survival Rate, dan Feed Conversion Ratio, pembudidaya dapat mengetahui kondisi kolam lebih dini sehingga keputusan yang diambil lebih tepat dan risiko kerugian dapat diminimalkan,” jelas Dr. Alpiani.
Tim pengabdian Unhas juga mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai bagian dari inovasi budidaya berkelanjutan. Salah satunya adalah bioslurry, residu dari instalasi biogas yang masih mengandung unsur hara dan mikroorganisme bermanfaat. Bioslurry berpotensi meningkatkan produktivitas pakan alami di kolam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, sehingga biaya operasional dapat ditekan.
Desa Benteng Gajah memiliki potensi untuk menjadi contoh pengembangan budidaya ikan nila berbasis inovasi karena didukung sumber daya lokal yang dapat diintegrasikan dengan teknologi budidaya modern.
“Kami berharap BUMDes tidak hanya mampu mengembangkan usaha budidaya ikan nila yang produktif, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat desa,” kata Dr. Alpiani.
Dalam kegiatan ini, tim pengabdian Unhas menghadirkan praktisi budidaya ikan nila, Syamsuddin, S.Pi., sebagai narasumber. Materi yang diberikan meliputi perencanaan usaha, perhitungan kapasitas kolam, penentuan padat tebar benih, hingga estimasi produktivitas dan hasil panen berdasarkan kondisi budidaya.
Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai pengelolaan kualitas air melalui pemantauan pH dan suhu, teknik pengambilan sampel kualitas air, penggunaan probiotik, penerapan sistem bioflok, hingga strategi pencegahan penyakit ikan. Pengendalian parameter tersebut penting karena perubahan kualitas air dapat memicu stres pada ikan, menurunkan daya tahan tubuh, serta meningkatkan risiko serangan penyakit yang berdampak pada produktivitas budidaya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi. Dialog yang berlangsung menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pendampingan berbasis ilmu pengetahuan masih sangat besar, terutama bagi pelaku usaha perikanan di tingkat desa.
Sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi hasil bimbingan teknis, Tim Pengabdian Unhas juga menyerahkan sejumlah peralatan budidaya kepada pengelola BUMDes Desa Benteng Gajah. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung penerapan teknik budidaya berbasis data dan pengembangan usaha perikanan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produksi pangan dan SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan usaha ekonomi desa.
Bimbingan teknis ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026. Kegiatan dilaksanakan di Desa Benteng Gajah, Kabupaten Maros, pada Minggu (26/7), dan dihadiri oleh Kepala Desa, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Direktur beserta anggota BUMDes, serta mahasiswa yang terlibat dalam program.
Editor: Bali Putra










