
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Tren negatif performa mate nikel berlanjut. Penurunan yang sudah terjadi di Januari 2026, di mana, mate nikel menurun tajam sekitar 70,9 persen dibanding periode sama 2025, masih terjadi di Februari 2026 yang menurun sebesar 15,9 persen dibandingkan Februari 2025.
Namun demikian, mate nikel masih menjadi komoditas ekspor dengan kontribusi devisa terbesar, mencapai 48,5 persen bagi neraca perdagangan Sulawesi Selatan (Sulsel), Februari 2026.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Kanwil DJBC Sulbagsel), Martha Octavia menyebutkan, hingga Februari 2026, neraca perdagangan mencatat surplus 39,10 juta USD dengan total nilai ekspor 163,28 juta USD dan impor 124,17 juta USD. Secara komulatif, ekspor mencapai 0,25 miliar USD dan impor tumbuh signifikan menjadi 0,20 miliar USD.
“Devisi ekspor didominasi komoditas mate nikel dengan kontribusi sebesar 121,5 juta USD atau 48,5 persen. Sementara dari sisi impor, didominasi perangkat teknis dengan nnilai 38,1 juta USD atau sebesar 19,1 persen,” ujar Martha Octavia di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Senin (30/03/2026).
Selain mate nikel, empat komoditas penyumbang devisa ekspor tertinggi yakni produk kakao 29,8 juta USD dengan share 11,6 persen (tumbuh 12,2 persen), kemudian paduan fero 17,6 juta USD dengan share 7,1 persen (terkontraksi signifikan 74,9 persen), rumput laut 15,4 juta USD dengan share 6,2 persen (terkontraksi 7,7 persen), dan karaginan 12,5 juta USD dengan share 4,9 persen (tumbuh 8,5 persen).
“Lima negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar dari Sulsel yakni Jepang, Cina, USA, Vietnam, dan Malaysia,” katanya.
Sementara dari sisi devisa komoditas impor, tertinggi perangkat teknis khusus mencapai 38,1 juta USD dengan share 19,1 persen, minyak patrolium 36,9 USD share 18,5 persen (tumbuh signifikan 55,86 persen), bungkil kedelai 27,1 juta USD share 13,5 persen (tumbuh 27,6 persen), gandum 23,1 juta USD share 11,5 persen (tumbuh 46 persen), dan gula 17,1 juta USD dengan share 8,5 persen (terkontraksi 18,7 persen).
“Lima negara asal impor terbesar yakni Cina, Singapura, Brazil, Thailand, dan Australia.
Hingga saat ini, Bea Cukai Sulbagsel masih memberikan fasiltas industri dari aspek kepabeanan dan cukai berupa fiskal dan non fiskal, menunjukkan dukungan pertumbuhan industri yang memadai. Hal ini bertujuan mendorong pertumbuhan nilai ekspor dari sektor pertambangan dan pengolahan yang saat ini mampu menyerap 3.085 tenaga kerja.
Setidaknya, ada 10 fasilitas berupa kawasan berikat dan satu fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Terdapat Rp2,8 miliar bea masuk (BM) ditangguhkan, Rp17,2 miliar PPN tidak dipungut dan Rp4,1 miliar PPh tidak dipungut akibat fasilitas kawasan berikat, serta Rp5,6 miliar BM dibebaskan dan Rp12,9 miliar PPN tidak dipungut dari fasilitas KITE.
Namun demikian, pemberian fasilitas tersebut mampu menambah investasi 17,81 juta USD, termasuk memberi dampak pertumbuhan ekonomi di sekitar Perusahaan pengguna fasilitas diantaranya 216 unit usaha rumah tangga, 173 unit usaha kecil, 51 unit usaha sedang, 25 unit usaha besar yang bergerak di bidang perdagangan, akomodasi, makanan, dan transportasi.
“Oleh karenanya, kami selalu siap memberikan asitensi terkait kawasan berikat untuk perusahaan yang fokus ekspor, dan fasilitas KITE untuk perusahaan yang semi ekspor,” tambah Martha.
Sementara itu, secara umum, Martha menyebutkan, realisasi penerimaan Kepabeanan dan Cukai hingga Februari 2026 mencapai Rp32,1 miliar atau 8,6 persen dari target Rp373,4 miliar, yang terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp15,3 miliar, Bea Keluar Rp8,2 miliar, dan Cukai Rp8,5 miliar.
Tahun lalu, Bea Cukai Sulbagsel berhasil mencatatkan kinerja positif dengan penerimaan sepanjang 2025, tembus di angka 122,33 persen, mencapai Rp392,7 miliar dari target Rp320,5 miliar. Terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp233,7 miliar, Bea Keluar Rp51,2 miliar, dan Cukai Rp107,2 miliar.
Bali Putra
KETERANGAN POTO:
Kepala Kanwil DJBC Sulbagsel, Martha Octavia saat memberi keterangan di GKN II Makassar, Senin (30/03/2026).








