Perempuan 83 Tahun, Ikut Berkompetisi di Pasanggiri Angklung AHM

144
Grup angklung Gita Pundarika NSI tampil memukau di hadapan dewan juri pada ajang Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH), Kamis (05/02/2026). POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, JAKARTA – Seorang perempuan berusia 83 tahun, Merrywati Peruba ikut ambil bagian berkompetisi di Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH), Kamis (05/02/2026).

Ia bersama kelompoknya, Gita Pundarika NSI, berkompetisi dengan 1.700 peserta lain pada ajang yang digelar Astra Honda Motor (AHM).

Merrywati bersama 39 pemain angklung lain di grupnya yang rata-rata berusia di atas 50 tahun, tampil memukau di hadapan dewan juri. Memainkan lagu Donau Wellen, Merry dan timnya berhasil memikat perhatian dewan juri sehingga tim angklung asal DKI Jakarta ini dinobatkan sebagai juara pertama di kategori umum.

Merrywati Peruba. POTO: ISTIMEWA

“Bermain angklung menjadi salah satu cara untuk memperkuat daya ingat, memberikan kenyamanan dan perasaan bahagia. Dari angklung kami belajar pentingnya kerjasama guna menghasilkan melodi yang indah dan harmonis,” ujar Merrywati.

Ajang PASH, baginya, menjadi ruang untuk berkreasi sekaligus mengekspresikan hobi bermusik.

Selain menetapkan Merrywati dan tim sebagai pemenang, AHM juga memberikan apresiasi kepada pemenang dari 3 kategori kelompok lain yaitu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA). Para pemenang ini berhasil menyisihkan ribuan peserta lain yang berasal dari 21 kabupaten dan kota di Tanah Air.

Selain pemenang di 3 kategori, AHM juga memilih 2 tim angklung terfavorit yang berhasil mencuri perhatian netizen di media sosial. Saat kompetisi berlangsung, para peserta secara kreatif dan kompak membawakan beragam genre musik, mulai dari musik daerah lagu anak-anak hingga lagu original soundtrack film.

“Ini membuktikan angklung mampu berpadu dengan berbagai jenis musik,” ujar General Manager Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin.

Muhibbuddin mengapresiasi antusiasme peserta dalam menjaga warisan budaya angklung yang telah dikukuhkan oleh UNESCO lebih dari 2 dekade.

Selain sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO, angklung juga merepresentasikan nilai keberlanjutan karena terbuat dari bambu yang ramah lingkungan. Melalui lomba ini, AHM berharap angklung terus hidup, berkembang, dan relevan di tangan generasi muda sebagai simbol harmoni, kolaborasi, dan kebanggaan budaya Indonesia.

Editor: Bali Putra