Nilai Perdagangan Indonesia–Tiongkok Melonjak Signifikan Satu Dekade Terakhir

201
Dubes RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun saat hadir pada Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Sulampua Menuju Global Logistics Hub untuk Penguatan Efisiensi dan Daya Saing Logistik Kawasan Indonesia Timur”, di Aula Lantai 6 Gedung Keuangan Negara (GKN) Manado, Rabu (14/01/2026), mengatakan, Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia sekaligus salah satu sumber investasi terbesar. Dalam satu dekade terakhir, nilai perdagangan Indonesia–Tiongkok melonjak signifikan dari USD44 miliar pada 2015 menjadi USD148 miliar pada 2024. Angka tersebut meningkat lebih dari 236 persen. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MANADO – Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun mengatakan, Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia sekaligus salah satu sumber investasi terbesar. Dalam satu dekade terakhir, nilai perdagangan Indonesia–Tiongkok melonjak signifikan dari USD44 miliar pada 2015 menjadi USD148 miliar pada 2024.

“Angka tersebut meningkat lebih dari 236 persen,” ujar Djauhari saat hadir pada Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Sulampua Menuju Global Logistics Hub untuk Penguatan Efisiensi dan Daya Saing Logistik Kawasan Indonesia Timur”, di Aula Lantai 6 Gedung Keuangan Negara (GKN) Manado, Rabu (14/01/2026).

Djauhari menyebutkan, pada periode Januari–November 2025, total perdagangan kedua negara tercatat mencapai USD150,36 miliar, dengan neraca perdagangan relatif seimbang.

Di bidang investasi, realisasi investasi Tiongkok di Indonesia juga meningkat tajam dari USD630 juta pada 2015 menjadi USD8,1 miliar pada 2024. Sementara pada 2025 Tiongkok masih menempati peringkat tiga besar investor asing di Indonesia.

“Sektor utama investasi meliputi industri pengolahan logam, transportasi dan pergudangan, energi, industri kimia dan farmasi, serta infrastruktur strategis,” jelasnya.

Menurut Djauhari, pembukaan jalur direct call Bitung–Tiongkok merupakan terobosan penting dalam rantai pasok regional Asia Timur. Ini bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi jalur pertumbuhan dan investasi.

Direct call akan mempercepat arus barang, menurunkan biaya logistik, meningkatkan daya saing produk Indonesia Timur, serta membuka peluang integrasi ke regional value chains Asia Timur,” tambahnya.

Pengembangan Bitung juga sejalan dengan sinergi Poros Maritim Dunia dan Belt and Road Initiative (BRI), di mana Sulawesi Utara diproyeksikan sebagai Pacific Rim Economic Hub yang terintegrasi dengan kawasan industri dan pelabuhan di Tiongkok, termasuk melalui skema Two Countries Twin Parks dan Twin Ports.

Sementara itu, selain Dubes RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, FGD juga dihadiri Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, Wakil Gubernur Sulawesi Utara Victor Mailangkay, Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, pimpinan instansi vertikal, pelaku usaha logistik, eksportir dan importir, serta investor dari Indonesia dan Tiongkok.

FGD dipandu Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara, Erwin Situmorang, bersama Ketua APINDO Sulawesi Utara, Riko Lieke. Event berlangsung dinamis dengan fokus utama pada pengembangan layanan direct call dari Pelabuhan Bitung sebagai game changer logistik Indonesia Timur.

Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus menegaskan, kawasan Sulampua merupakan salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusi ekspor yang diperkirakan mencapai USD 25–30 miliar per tahun atau sekitar 15–18 persen dari total ekspor nasional. Namun demikian, sebagian besar arus barang kawasan timur Indonesia masih bergantung pada pelabuhan di Pulau Jawa, yang menyebabkan tingginya biaya logistik dan panjangnya waktu tempuh pengiriman.

“Pengembangan direct call dari Bitung berpotensi memangkas waktu pelayaran ke Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok dari 25–30 hari menjadi sekitar 7–10 hari, serta menurunkan biaya logistik hingga 20–30 persen,” tegas Yulius.

Ia menyebutkan, penetapan Bitung sebagai simpul logistik nasional harus dipandang sebagai kepentingan bersama seluruh kawasan Sulampua, bukan semata-mata kepentingan daerah tertentu .

Keberhasilan Sulawesi Utara sebagai hub logistik akan menciptakan ekosistem baru yang mendorong pertumbuhan pergudangan, pusat distribusi regional, pelabuhan pengumpul (feeder ports), serta menjadi magnet masuknya investasi berkualitas ke Indonesia Timur.

Para pelaku usaha logistik, eksportir, dan importir yang hadir pada FGD, berharap pengembangan layanan direct call dari Bitung dapat segera berjalan secara reguler dan berkelanjutan. Karena akan secara langsung meningkatkan efisiensi bisnis, memperkuat daya saing produk Indonesia Timur di pasar global, serta menciptakan kepastian usaha.

Secara keseluruhan, FGD menegaskan, pengembangan direct call dari Bitung bukan hanya agenda daerah, melainkan strategi nasional untuk memajukan Indonesia Timur sebagai pengungkit kemajuan Indonesia secara keseluruhan. Dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, serta mitra internasional, Sulampua diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global dan memperkuat posisi Indonesia di kawasan Asia Pasifik.

Editor: Bali Putra