
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai front end digital payment di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan peningkatan signifikan. Terlihat dari jumlah merchant mencapai 1,3 juta, naik 23 persen dibandingkan jumlah merchant pada 2024, sebanyak 1,1 juta.
Merchant QRIS di Sulsel, didominasi atau sekitar 76,8 persen pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Konsentrasi merchant, terbanyak ada di Kota Makassar, yang besarnya mencapai 43 persen.
“Ke depan, bersama industri, BI Sulsel berkomitmen untuk memperluas akseptasi digitalisasi pembayaran ke seluruh kabupaten/kota di Sulsel,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Divisi SPPURMI BI Sulsel, Tri Adi Riyanto, di Rewako Building Makassar, Jumat (20/02/2026).
Dikatakan Tri, pengguna QRIS di Sulsel pada 2024 sebanyak 1,2 juta, bertambah menjadi 1,3 orang lebih pada 2025 atau naik sekitar 8 persen, dengan nominal transaksi tumbuh sekitar 85,34 persen. “Transaksi QRIS di Sulsel pada 2025, 19,05 triliun, dari Rp10,28 triliun pada 2024,’ kata Tri.
Transaksi QRIS antarnegara di Sulsel juga terus bertambah, baik dari sisi volume maupun nominal. “Warga negara Malaysia menjadi penyumbang transaksi terbesar, diikuti warga Singapura dan Thailand,” tambah Tri.
Ia menjelaskan, transaksi menggunakan QRIS makin diminati wisatawan karena kepraktisannya. Transaksi Malaysia pada 2025 mencapai Rp13,9 miliar, meningkat 96 persen dari Rp7,4 miliar pada 2024. Kemudian Singapura mencapai Rp1,8 miliar, meningkat signifikan dibandingkan 2024, Rp277,5 juta. Thailand, mencapai Rp390,4 juta (2025) dari Rp43,07 juta pada 2024.
“Total transaksi QRIS antarnegara dari ketiga negara tersebut (Malaysia, Singapura dan Thailand, mencapai Rp16,01 miliar, meningkat dari Rp7,7 miliar pada 2024,” tambah Tri.
Menurutnya, QRIS bukan hanya mempermudah transaksi, juga mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas ekonomi.
Bali Putra








