Kinerja SJK Sulsel Stabil di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Tekanan Inflasi

91
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) posisi Juni 2026 tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi. Tercermin dari kinerja sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang tetap terjaga.

Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin menyebutkan, fungsi intermediasi perbankan berjalan baik, penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit tumbuh positif, partisipasi masyarakat di pasar modal terus meningkat, serta berbagai sektor IKNB menunjukkan perkembangan yang mendukung perluasan akses keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Di sektor Perbankan, posisi Juni 2026 total aset perbankan tumbuh 5,99 persen (yoy) menjadi  Rp214,32 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,71 persen (yoy) menjadi Rp149,77 triliun, dan kredit perbankan tumbuh 5,27 persen (yoy) menjadi Rp176,30 triliun.

Muchlasin menjelaskan, tabungan mendominasi DPK di Sulsel dengan share 61,45 persen, disusul Deposito 22,68 persen dan Giro sebesar 15,87 persen.

“Pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat, menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” ujarnya.

Dari sisi penyaluran dana, kredit produktif memiliki pangsa 52,28 persen dan tumbuh positif 2,36 persen (yoy), sementara itu kredit konsumtif dengan pangsa 47,72 persen, tumbuh 8,66 persen (yoy). Dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit produktif yang disalurkan pada sektor perdagangan besar dan eceran memiliki porsi terbesar dengan share 21,53 persen dari total penyaluran kredit.

Fungsi intermediasi perbankan juga tetap berjalan dengan baik yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 117,71 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) masih terjaga, berada pada level 3,70 persen.

“Ini artinya, perbankan di Sulsel tetap mampu menyalurkan pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai,” tambah Muchlasin.

Perbankan syariah juga berkembang positif dengan pertumbuhan aset, penghimpunan dana, dan pembiayaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional Juni 2026. Total aset perbankan syariah tumbuh 30,80 persen (yoy) menjadi Rp23,89 triliun, dengan DPK tumbuh 30,62 persen (yoy) menjadi Rp16,18 triliun dan penyaluran pembiayaan juga tumbuh 24,28 persen (yoy) menjadi Rp19,35 triliun. Tingkat intermediasi perbankan Syariah berada pada level 119,64 persen dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 2,27 persen.

Pangsa pasar aset perbankan syariah meningkat menjadi 10,87 persen, mencerminkan semakin luasnya penerimaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah serta meningkatnya kontribusi industri perbankan syariah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Sulsel terus meningkat mencapai 766.125 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 79,28 persen (yoy). Berdasarkan jenis portofolio, pertumbuhan investor tertinggi tercatat pada reksa dana, 81,35 persen (yoy).

Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal serta meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Pertumbuhan investor yang tinggi juga menunjukkan semakin kuatnya inklusi keuangan di daerah melalui pemanfaatan berbagai instrumen investasi yang tersedia.

Sementara itu, kinerja IKNB juga tetap menunjukkan perkembangan ositif pada perusahaan pembiayaan, fintech peer-to-peer lending, pergadaian, perasuransian, dana pensiun, dan lembaga penjaminan yang mencerminkan semakin beragamnya akses layanan dan pembiayaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan pelaku usaha. Kondisi tersebut menunjukkan, sektor jasa keuangan tidak hanya tetap stabil, tetapi semakin inklusif dalam mendukung kebutuhan pembiayaan dan pengelolaan keuangan masyarakat.

Kinerja IKNB di Sulsel posisi Mei 2026 tumbuh positif di berbagai industri. Penyaluran pembiayaan pada perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp19,39 triliun tumbuh 3,56 persen (yoy), sementara itu, total pembiayaan pada perusahaan modal ventura mencapai Rp389 miliar atau tumbuh sebesar 3,48 persen (yoy). Di sisi lain, layanan keuangan berbasis teknologi juga terus mengalami ekspansi. Outstanding pembiayaan Fintech Peer-to-Peer (P2P) lending mencapai Rp2,64 triliun atau tumbuh signifikan sebesar 29,64 persen (yoy), yang mengindikasikan meningkatnya pemanfaatan layanan pembiayaan digital oleh masyarakat.

Pertumbuhan tertinggi tercatat pada industri pergadaian dengan total pembiayaan mencapai Rp12,58 triliun atau tumbuh sebesar 44,83 persen (yoy). Pertumbuhan pembiayaan pada berbagai sektor mencerminkan semakin beragamnya alternatif akses pendanaan bagi masyarakat dan pelaku usaha

Di sisi lain, peningkatan kinerja industri perasuransian, dana pensiun, dan lembaga penjaminan menunjukkan semakin kuatnya pemanfaatan instrumen proteksi, mitigasi risiko, serta perencanaan keuangan jangka panjang oleh masyarakat dan dunia usaha.

Total aset Dana Pensiun tumbuh 1,29 persen (yoy) menjadi Rp1,71 triliun. Adapun nilai penjaminan pada lembaga penjaminan tercatat sebesar Rp1,03 triliun atau tumbuh 19,86 persen (yoy). Pada industri perasuransian (posisi April 2026), total premi tercatat tumbuh cukup tinggi sebesar 30,63 persen (yoy) menjadi Rp1,26 triliun, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan keuangan dan manajemen risiko.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tidak hanya tetap stabil dalam mendukung kebutuhan pembiayaan, tetapi juga semakin berperan dalam memperkuat ketahanan keuangan masyarakat dan pelaku usaha melalui berbagai layanan perlindungan dan pengelolaan risiko.

Editor: Bali Putra