Jaga Harga Cabai Stabil, TPID Sulsel Gelar Gerakan Pangan Murah di Makassar

54
POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (BI Sulsel) terus memperkuat sinergi menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat. Salah satunya, melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPIP) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Rabu, 30 September 2026

Kegiatan yang berlangsung di Halaman Kantor Camat Tallo, Kota Makassar, dirangkaikan dengan edukasi QRIS dan hilirisasi komoditas cabai di Kota Makassar.

Kegiatan resmi dibuka Pelaksana Tugas (Plt). Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, Muh. Ilyas. Turut dihadiri Camat Tallo, Andi Husni, dan Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Sulsel, Oki Hermawan, sebagai wujud sinergi pemerintah daerah dan BI dalam mendukung upaya pengendalian inflasi di daerah.

“GPM merupakan upaya pengendalian inflasi pangan dengan menerapkan prinsip 4T, tepat lokasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat komoditas, terutama terhadap komoditas pangan yang mengalami tekanan harga,” ujar Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda.

Melalui pelaksanaan GPM, masyarakat diharapkan dapat memperoleh berbagai kebutuhan pangan dengan harga lebih terjangkau sekaligus mendukung terjaganya daya beli masyarakat.

Cabai menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam pelaksanaan GPM kali ini. Berdasarkan perkembangan harga per 25 September 2026, harga cabai rawit merah di Kota Makassar Rp71.250 per kilogram, berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen Rp40.000–Rp57.000 per kilogram.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dilaksanakannya intervensi melalui GPM untuk membantu masyarakat memperoleh komoditas pangan dengan harga yang lebih terjangkau.

Dalam kegiatan ini, 250 paket tebus murah cabai disiapkan dengan harga Rp17.500 per paket. Setiap paket terdiri atas cabai merah 200 gram, cabai rawit 200 gram, dan cabai keriting 200 gram. Penjualan paket tersebut dilakukan menggunakan mekanisme pembayaran QRIS, sehingga masyarakat dapat sekaligus memperoleh akses pangan dengan harga terjangkau dan pengalaman bertransaksi secara non-tunai.

Selain cabai, GPM juga menghadirkan berbagai komoditas pangan lainnya, diantaranya beras, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging sapi, telur ayam ras, tepung terigu, aneka sayuran dan buah segar, serta produk-produk olahan. Kehadiran berbagai komoditas tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari sekaligus mendukung keterjangkauan harga di tingkat konsumen.

Bagi Bank Indonesia, pengendalian inflasi merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai Rupiah, khususnya kestabilan harga barang dan jasa. Dalam pelaksanaannya, BI terus bersinergi dengan pemerintah melalui forum TPIP/TPID untuk merespons dinamika harga dan menjaga stabilitas perekonomian daerah.

Rangkaian kegiatan GPM juga menjadi momentum untuk mendorong semakin luasnya pemanfaatan QRIS di tengah masyarakat. Edukasi QRIS diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan awareness masyarakat terhadap transaksi pembayaran digital yang mudah, cepat, dan efisien.

Penggunaan QRIS dalam transaksi GPM juga menjadi contoh penerapan digitalisasi pembayaran dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, termasuk pada transaksi kebutuhan pangan.

Di sisi lain, upaya menjaga stabilitas harga cabai juga perlu dibarengi dengan pengembangan nilai tambah komoditas. Karena itu, kegiatan ini turut menghadirkan edukasi hilirisasi cabai serta showcasing produk olahan cabai dari UMKM Binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan. Melalui pengolahan menjadi produk bernilai tambah, komoditas cabai diharapkan memiliki potensi pasar yang lebih luas, umur simpan yang lebih panjang, serta memberikan peluang pengembangan usaha bagi pelaku UMKM.

Integrasi antara GPM, digitalisasi pembayaran, dan edukasi hilirisasi menjadi bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh dalam pengendalian inflasi. GPM memberikan respons terhadap kebutuhan masyarakat dalam memperoleh pangan dengan harga terjangkau, sementara digitalisasi dan hilirisasi diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi serta meningkatkan nilai tambah di tingkat pelaku usaha.

Melalui sinergi yang terus diperkuat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan, TPID Provinsi Sulawesi Selatan berkomitmen untuk terus mendukung terjaganya stabilitas harga pangan, daya beli masyarakat, serta pengembangan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Editor: Bali Putra