
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Dari tiga instrumen pasar modal yang tersedia, saham, obligasi dan reksa dana, reksa dana merupakan instrumen yang paling banyak diminati investor di Indonesia termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya investor Generasi milenial dan Gen-Z.
“Hingga Februari 2026, di Sulsel, terdapat 569.610 investor reksa dana,” ungkap Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar), Moch. Muchlasin pada kegiatan “Road to Pekan Reksa Dana 2026”: Mendorong Literasi Reksa Dana,” yang berlangsung di Kantor OJK Sulselbar di Makassar, Kamis (16/04/2026).
Menurut Muchlasin, minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat, terutama dari generasi muda. Berdasarkan data BPS, penduduk usia 15–34 tahun mencapai 88,96 juta jiwa, tetapi investor reksa dana usia muda baru sekitar 12,82 persen.

“Artinya, ruang peningkatan inklusi investasi masih sangat luas dan perlu didorong secara serius. Karena jika dilihat lebih dalam, potensi tersebut masih sangat besar,” ujar Moch. Muchlasin.
Oleh karena itu, bakal diluncurkan secara resmi kampanye nasional Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (PINTAR Reksa Dana) sebagai salah satu inisiatif strategis untuk menjembatani potensi besar tersebut dengan realisasi partisipasi masyarakat yang lebih luas, di Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta, 27 April mendatang.
Selain itu, Moch. Muchlasin juga menyampaikan pentingnya untuk dipahami bahwa investasi tidak hanya berbicara tentang keuntungan, tetapi juga risiko. Oleh karena itu, edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat dapat berinvestasi secara bijak. Sekaligus mengingatkan masyarakat untuk selalu memastikan legalitas produk dan memahami manfaat, risiko hak, dan kewajiban sebelum berinvestasi.
Di tempat sama, Dewan Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana Indonesia (APRDI), Marsangap P. Tamba menyampaikan, pertumbuhan signifikan industri reksa dana pada 2025, mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional.
“Momentum ini perlu terus dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, terutama di kalangan generasi muda yang kini mendominasi komposisi investor,” sebutnya.
Melalui rogram Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU) APRDI 2026 dan kampanye #ReksaDanaAja, pihaknya mendorong pendekatan edukasi yang lebih interaktif dan partisipatif agar masyarakat semakin memahami pentingnya investasi yang terencana melalui reksa dana.
Marsangap menyebutkan, Reksa Dana memiliki enam keunggulan utama dibandingkan dengan produk investasi lain, karena Reksa Dana ramah bagi investor.
Di mana, Reksa Dana merupakan produk yang sangat ideal untuk menjadi starter bagi pemula maupun sebagai diversifikasi bagi investor advance.
Reksa Dana, dikelola professional oleh Manajer Investasi berpengalaman dan berlisensi. Kemudian bebas pajak, sehingga Reksa Dana lebih menguntungkan investor.
Likuiditas tinggi, sehingga Reksa Dana mudah dicairkan kapan saja.
Diversifikasi atau murah, sehingga memungkinkan investor berinvestasi ke berbagai instrument dengan modal terjangkau.
Serta, akses beragam, di mana Reksa Dana dapat dengan mudah dibeli melalui berbagai channel.
Marsangap menambahkan, Reksa Dana setidaknya memiliki empat manfaat diantaranya memenuhi tujuan keuangan jangka pendek hingga panjang, membantu menjaga nilai riil uang sehingga bisa mengalahkan inflasi, cocok untuk pemula maupun investor berpengalaman, dan legal, terdaftar dan diawasi OJK.
Namun demikian, Reksa Dana juga tentu memiliki risiko seperti pergerakan pasar yang fluktuatif, bergantung pada kondisi ekonomi dan politik, masalah likuiditas dan Risiko wanprestasi, serta kerugian nilai investasi yang mungkin terjadi.
“Perlu diingat, Risiko investasi tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, namun dapat dipahami dan dimitigasi dengan pengetahuan yang tepat,” sebut Marsangap.
Editor: Bali Putra








