Dubes RI Dorong Pelaku UMKM Sulut Manfaatkan Peluang Tembus Pasar Cina

186
Dubes RI untuk cina, Jauhari Oratmangun saat ngopi bareng pelaku UMKM Manado dan sekitarnya di Kawasan Mega Mas, Manado, beberapa waktu lalu. Pada kesempatan itu, Dubes mendorong pelaku UMKM memanfaatkan peluang ekspor tembus pasar Tiongkok yang terus berkembang. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MANADO – Duta Besar Republik Indonesia untuk Cina, Jauhari Oratmangun, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Sulawesi Utara (Sulut) untuk memanfaatkan peluang ekspor ke pasar Tiongkok yang terus berkembang. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama pelaku UMKM Manado dan sekitarnya di Kawasan Mega Mas, Manado, beberapa waktu lalu.

“Pasar Cina saat ini masih berkembang, khususnya untuk produk makanan dan minuman. Produk kerajinan Indonesia juga cukup diminati. Namun pelaku usaha harus benar-benar memperhatikan aspek harga dan melakukan negosiasi secara cermat, termasuk dalam menentukan term of payment dengan calon pembeli,” ujar Jauhari.

Pada pertemuan itu, sejumlah UMKM memamerkan produk unggulan yang berpotensi ekspor, antara lain olahan ikan dan hasil laut, wastra lokal Sulut, vanili, serta kerajinan berbahan dasar alam seperti kelapa.

Salah satu pelaku usaha, Suriana dari CV Lyvia Nusa Boga, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan, perusahaannya saat ini sedang menjalani proses pendaftaran pada otoritas kepabeanan Cina atau General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC) sebagai salah satu prasyarat ekspor ke negara tersebut.

Dubes Jauhari pun menegaskan kesiapan pemerintah melalui perwakilan diplomatik untuk membantu pelaku usaha Indonesia menembus pasar Tiongkok.

Di tempat sama, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara dan Tengah, Erwin Situmorang, menekankan pentingnya pemahaman detail prosedur ekspor bagi UMKM. Menurutnya, ketidaktahuan terhadap regulasi dan mekanisme ekspor berpotensi menimbulkan hambatan di kemudian hari.

Selain itu, Erwin juga menyoroti peluang optimalisasi jalur logistik udara. Ia menyebutkan, ketersediaan kargo penerbangan internasional di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengiriman ekspor, khususnya untuk produk bernilai tambah dan berorientasi waktu pengiriman cepat.

Ketua Apindo Sulut, Niko Lieke, menambahkan, ekspor merupakan proses jangka panjang yang tidak bisa diharapkan langsung menghasilkan keuntungan besar. Tantangan seperti permintaan diskon tinggi dari pembeli hingga kompleksitas proses pendaftaran GACC merupakan bagian dari dinamika yang harus dihadapi pelaku usaha.

“Karena itu, UMKM perlu didampingi dan disarankan memiliki kakak angkat atau mitra usaha yang lebih berpengalaman agar dapat masuk ke pasar Cina secara berkelanjutan,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Cina menjadi negara tujuan utama ekspor Sulut. Sepanjang 2025, nilai ekspor Sulut menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan kontribusi terbesar berasal dari perdagangan dengan Cina. Kondisi ini membuka peluang besar bagi UMKM daerah untuk ikut mengambil peran dalam rantai pasok global.

Pertemuan yang juga dihadiri perwakilan APINDO dan Balai Karantina tersebut berlangsung interaktif dan dipandu Amelia Tungka. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan UMKM Sulut dalam memanfaatkan momentum pertumbuhan ekspor dan memperluas akses ke pasar internasional, khususnya Tiongkok.

Editor: Bali Putra