
BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel), belum akan mencapai angka 6 persen di 2026. Pasalnya, belum seluruh potensi digali secara maksimal. Diantaranya masih banyak infrastruktur, utamanya akses jalan menuju wilayah potensial investasi yang kondisinya rusak. Sementara investasi sendiri, menjadi salah satu pendorong tumbuhnya perekonomian di wilayah ini.
Bank Indonesia (BI) Sulsel memproyeksikan pertumbuhan ekonomi, mentok dikisaran tertinggi 5,8 persen secara tahunan dan terendah di 5,0 persen atau rata-rata pertumbuhan diperkirakan di angka 5,4 persen.
Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menyebutkan, proyeksi tersebut mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik yang masih dinamis, termasuk tantangan pada sisi investasi serta belum optimalnya kinerja beberapa lapangan usaha utama.
Menurut Rizki, beberapa tantangan investasi yang dihadapi Sulsel seperti tingkat investasi yang belum efisien, terlihat dari masih rendahnya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia dibandingkan beberapa negara Asia seperti Malaysia dan Vietnam.
“Meskipun efisiensi investasi menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir di Sulsel, namun, penurunan dana Transfer ke Daerah atau TKD, berpotensi menahan PMTB atau Pembentukan Modal Tetap Bruto. Sehingga pertumbuhan perlu tetap ditopang penguatan permintaan domestik,” sebut Rizki di Rewako Building Makassar, Jumat (20/02/2026).
Rizki mengatakan, infrastruktur jalan masih menjadi penyebab menurunnya minat investor menanamkan modal di Sulsel. Ia mencontohkan potensi investasi rumput laut di Bone. Di mana, investor ada, lahan tersedia, namun jalan akses menuju lokasi rusak. Kondisi itu, tentu membuat biaya investasi menjadi lebih mahal, dan menurunkan daya tarik daerah sebagai tujuan investasi.
Terjaga di Sasaran 2,5 ±1 Persen
Sementara itu, BI Sulsel meyakini inflasi terjaga di rentang sasaran 2,5 ±1 Persen. Pada Januari 2026, tercatat inflasi 0,47 persen secara bulanan. Angka ini, melandai dibandingkan Desember 2025 sebesar 0,49 persen.
“Namun, secara tahunan inflasi Sulsel 4,11 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 3,55 persen,” kata Rizki.
Dikatakan, inflasi awal tahun masih bersifat musiman dan didominasi kelompok makanan, utamanya ikan segar. Kondisi cuaca ekstrim, hujan dan potensi banjir mempengaruhi pasokan serta distribusi hasil laut di sejumlah wilayah, membuat harga naik, di tengah potensi peningkatan permintaan yang tinggi seiring libur nasional yang berdekatan.
Inflasi terutama dipicu harga emas yang tinggi, dan 7 dari 10 penyumbang utama inflasi berasal dari tekanan harga ikan akibat kondisi cuaca yang kurang kondusfi.
“Tekanan iflasi yang lebih tinggi, tertaha oleh komoditas pangan, khususnya cabai dan bawang merah, sejalan dengan pasokan yang terjaga di tengah normalisasi permintaan pasca-HBKN Nataru. Kelompok angkutan udara juga menahan laju inflasi lebih tinggi, seiring kebijakan diskon tarif penerbangan saat Nataru yang berlangsung hingga awal Januari 2026,” jelas Rizki.
Bali Putra








