Banyak Disuplai Daerah Lain, Peluang Usaha Ternak Ayam di Lutim Menjanjikan

177
Usaha ternak ayam milik I Nyoman Sugiana, pengusaha lokal Luwu Timur di Desa Kertoraharjo, Tomoni Timur. POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, LUWU TIMUR – Peluang usaha beternak ayam di Kabupaten Luwu Timur (Lutim) sangat menjanjikan. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan ayam, daerah ini masih di suplai daerah lain seperti Sidrap, Pinrang, Maros dan Makassar.

Peluang itu salah satunya ditangkap pengusaha lokal, Nyoman Sugiana. Ia memanfaatkan lahas seluas 1 hektare (ha) miliknya di Desa Kertoraharjo, Tomoni Timur, Lutim, dengan jumlah ternak saat ini mencapai 22 ribu ekor.

“Saya melihat peluang sangat besar dan menjanjikan dari usaha ini. Makanya, mulai 27 Agustus 2025, saya ekspansi ke usaha ternak ini,” ujar Sugiana, Selasa (12/05/2026).

Pengusaha, I Nyoman Sugiana. POTO: ISTIMEWA

Pengusaha yang sebelumnya juga memiliki beberapa usaha lain, seperti koperasi, rumput laut dan lainnya, mengaku menanamkan investasi senilai Rp3,5 miliar untuk usaha ternak ayam ini. Saat ini, Ia sudah memproduksi daging sebanyak 50 ton per periode atau sekitar 350 ton per tahun, yang dipasarkan di wilayah Lutim, juga Palu dan Morowali (Sulawesi Tengah).

“Hasil produksi saya ini, hanya sekitar 9,7 persen dari total kebutuhan untuk Lutim. Untuk itu, usaha ini prospeknya sangat menjanjikan. Apalagi, secara geografis Lutim merupakan segitiga emas jalur penghubung bisnis antarprovinsi di Sulawesi. Lutim juga merupakan kawasan tambang.,” sebutnya.

Selain daging, dari usaha ternaknya, Sugiana juga memasarkan kotoran hewan (kohe) 1.400 sak per periode atau sekitar 9.800 sak per tahun dengan harga Rp18.000 per sak.

Usaha ternak ayam milik I Nyoman Sugiana yang dikembangkan dengan sistem kandang Close House (CH). POTO: BALI PUTRA

Dijelaskan secara itung-itungan, kebutuhan daging ayam broiler di Kabupaten Luwu Timur (Menggunakan metode standar perencanaan pangan), di mana konsumsi daging ayam per kapita di kabupaten kisaran 12 kilogram per kapita per tahun.

Dengan jumlah penduduk Lutim sekitar 305.000 jiwa (data BPS beberapa tahun terakhir), kebutuhan ayam broiler sekitar 2,3 juta ekor per tahun atau  45.000 ekor per minggu.

“Ini baru itungan kebutuhan konsumsi masyarakat, belum termasuk rumah makan besar, catering tambang, hotel, dan yang lain,” tambah Sugiana.

Lutim memiliki banyak karyawan tambang, mess Perusahaan, catering proyek, dan rumah makan. Sektor ini menambah 20–30 persen konsumsi ayam. “Jadi, total kebutuhan realistis pasar Luwu Timur, itu bisa mencapai 2,8 – 3 juta ekor ayam per tahun atau 57.000 ekor per minggu,” jelasnya.

Saat ini, kebutuhan ayam di Lutim masih banyak disuplai dari Sidrap, Pinrang, Maros dan Makassar, karena produksi lokal baru mampu memenuhi 30–40 persen dari produksi lokal. “Masih ada defisit produksi sekitar 1,8 juta ekor ayam,” katanya.

Peluang yang dapat diambil, kapasitas kandang ideal dengan siklus broiler sekitar 40 hari atau enam siklus per tahun. Dengan membangun farm 20.000 ekor, diperkirakan produksi 120.000 ekor per tahun.

Yang pasti kata Nyoman yang notabena pemilik brand usaha “Adiluwung”, inisiatifnya membuka usaha ternak ayam, dengan harapan dapat membantu pemerintah daerah dalam menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat Luwu Timur.  Juga membantu pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan. “Apalagi adanya program pemerintah terkait Makan Bergizi Gratis atau MBG, juga menjadi salah satu untuk pemenuhan daging,” pungkasnya.

Bali Putra