Bandara Sultan Hasanuddin Hadirkan Pameran Museum Temporer, Ajak Pengguna Jasa Jelajahi Sejarah dan Warisan Budaya Sulsel

87
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin berkolaborasi dengan Disbudpar Sulsel menyelenggarakan Pameran Museum Temporer, 7-16 Agustus 2026. POTO: ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAROS – Bandara Internasional Sultan Hasanuddin berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel) menyelenggarakan Pameran Museum Temporer, 7-16 Agustus 2026.

Menghadirkan Museum Mandala, Museum La Galigo, dan Museum Karaeng Pattingalloang untuk memperkenalkan sejarah dan kekayaan budaya Sulsel kepada masyarakat dan pengguna jasa bandara.

Kehadiran pameran ini memberikan pengalaman berbeda bagi pengguna jasa dengan membawa lebih dekat melalui cerita perjalanan sejarah daerah dan budaya Sulawesi Selatan. Melalui Kolaborasi ini, pengguna jasa tidak hanya menikmati informasi sejarah, tetapi memperoleh pengalaman edukatif selama di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Tidak hanya pameran, rangkaian kegiatan lainnya juga turut diramaikan dengan photobooth bersama tokoh pahlawan serta lomba mewarnai. Aktivitas tersebut menjadi ruang interaksi yang edukatif dan kreatif, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai sejarah dan budaya Sulsel dengan cara lebih menarik.

General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, mengatakan, pameran museum temporer di lingkungan bandara merupakan sebuah terobosan baru di Sulsel, khususnya dalam menghadirkan ruang edukasi dan budaya di area bandara.

Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan optimalisasi destinasi yang sudah ada, juga dengan menciptakan ruang baru yang memberikan informasi dan pengalaman bagi masyarakat.

“Ini merupakan sesuatu yang baru di Sulsel, khususnya di bandara. Kami melihat, bandara memiliki potensi besar untuk menjadi ruang yang memperkenalkan berbagai informasi mengenai sejarah, budaya, dan pariwisata Sulsel,” katanya.

Ruly menyebutkan, dengan sekitar 27 ribu pengguna jasa yang beraktivitas setiap harinya, tentu terdapat peluang besar untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi pentahelix dengan pemerintah, akademisi, komunitas, maupun pemangku kepentingan lain untuk mengoptimalkan ruang bandara agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Ini merupakan langkah nyata untuk bersama-sama membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan transportasi, pariwisata, kebudayaan, dan edukasi,” katanya.

Kepala Disbudpar Sulsel, Hj. Andi Mirna, mengapresiasi kolaborasi bersama PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) dalam membawa museum lebih dekat kepada masyarakat melalui ruang publik bandara.

Menurutnya, kehadiran museum di bandara menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan sejarah dan warisan budaya Sulawesi Selatan kepada masyarakat maupun wisatawan.

“Kolaborasi ini membuktikan, fasilitas publik modern dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya lokal dan promosi pariwisata,” ujar Andi Mirna.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga meningkatkan pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan budaya Sulsel, sekaligus menjadikan museum sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi pariwisata daerah.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sulawesi Selatan, Melani Simon Jufri. Menurutnya, penyelenggaraan pameran museum temporer di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai langkah inovatif dalam memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Sulsel kepada masyarakat dan wisatawan.

“Bandara merupakan salah satu gerbang utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Karena itu, menjadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan sejarah Sulsel. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga kegiatan ini dapat terlaksana,” ujar Melani.

Melalui pameran temporer ini, Museum Mandala, Museum La Galigo, dan Museum Karaeng Pattingalloang tidak hanya menjadi ruang penyimpanan dan pembelajaran sejarah, tetapi juga membawa pengetahuan tersebut keluar dari ruang museum dan menjangkau masyarakat dalam ruang perjalanan untuk mengenal lebih dekat identitas Sulawesi Selatan.

Bagi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kolaborasi ini turut memperkuat keterhubungan antara transportasi, kebudayaan, dan pariwisata. Pameran Museum Temporer berlangsung hingga 16 Agustus

2026 dan dapat dinikmati pengguna jasa maupun masyarakat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, lengkap dengan berbagai aktivitas edukatif dan interaktif.

Editor: Bali Putra