Aktivitas Ekonomi dan Transaksi Meningkat, OJK Perluas Pemahaman Masyarakat Terhadap Produk dan Layanan Jasa Keuangan

70
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin. POTO: BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) menilai, kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) berada dalam kondisi stabil. Tercermin dari berbagai indikator utama pada sektor Perbankan, Pasar Modal, serta Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang menunjukkan tumbuh positif.

Sejalan dengan kondisi tersebut, OJK terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, termasuk melalui berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi yang memanfaatkan momentum Ramadan.

Periode Ramadan yang identik dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan transaksi, merupakan momen tepat memperluas pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang aman, legal, serta sesuai kebutuhan.

Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin menyebutkan, mengawali 2026, kinerja perbankan di Sulsel, stabil tergambar pada indikator total aset, dana pihak ketiga dan kredit yang tumbuh lebih tinggi pada Januari 2026, dibandingkan Januari 2025.

Total aset perbankan tumbuh 5,90 persen (yoy) mencapai Rp212,19 triliun. DPK tumbuh 7,83 persen (yoy) mencapai Rp145,27 triliun, yang didominasi tabungan dengan share 59,80 persen, disusul Deposito 24,22 persen dan Giro 15,99 persen.

Penyaluran kredit tumbuh 5,56 persen (yoy) mencapai Rp173,03 triliun. Didominasi kredit produktif dengan pangsa 52,88 persen dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kredit melalui akselerasi pertumbuhan dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Kredit konsumtif juga mencatatkan pertumbuhan tinggi, 8,08 persen.

Kinerja intermediasi perbankan di Sulsel terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 118,99 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah berada di level 3,99 persen.

Perbankan Syariah juga tumbuhpositif pada posisi Januari 2026. Total aset perbankan syariah tumbuh 26,19 persen (yoy) menjadi Rp21,20 triliun, dengan penghimpunan DPK tumbuh 23,61 persen menjadi Rp14,69 triliun, dan penyaluran pembiayaan tumbuh 25,16 persen (yoy) menjadi Rp17,92 triliun.

Tingkat intermediasi perbankan Syariah berada pada level 122,00 persen dengan tingkat NPF pada level 1,77 persen.

Kredit Usaha Mikro Mendominasi

Porsi penyaluran kredit sektor UMKM terhadap total kredit di Sulsel 36,32 persen atau Rp61,58 triliun, nilai ini tumbuh 0,75 persen (yoy). Kredit UMKM didominasi usaha mikro dengan share 57,30 persen, disusul usaha kecil 27,72 persen dan usaha menengah 14,98 persen. Secara total, kredit UMKM telah disalurkan kepada 909.544 debitur.

Pertumbuhan positif juga terlihat pada kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB). Penyaluran pembiayaan pada perusahaan pembiayaan tumbuh 0,14 persen, modal ventura tumbuh 7,97 persen, dan Fintech Peer-to-Peer (P2P) lending tumbuh 34,56 persen. Selain itu, total aset dana pensiun tumbuh 8,28 persen, total penjaminan lembaga penjaminan tumbuh 36,64 persen, namun total premi dan klaim asuransi terkontraksi masing-masing -8,10 persen dan -16,82 persen.

“Secara keseluruhan, dinamika kinerja IKNB tersebut menunjukkan bahwa sektor keuangan di Sulawesi Selatan tetap berada pada jalur pertumbuhan yang positif dan adaptif,” sebut Muchlasin.

Penguatan Kinerja

Pasar modal juga terus menguat seiring meningkatnya minat serta keterlibatan masyarakat dalam kegiatan investasi. Kondisi ini terlihat dari pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat, di mana jumlah investor/Single Investor Identification (SID) tumbuh 31,23 persen (yoy) mencapai 525.596 SID pada posisi Desember 2025. Pertumbuhan SID tertinggi berada pada portofolio saham yang tumbuh 40,46 persen dengan akumulasi transaksi saham hingga Desember 2025 (ytd) Rp41,87 triliun.

Dalam rangka menjaga pertumbuhan pasar modal yang sehat dan berkelanjutan, OJK bersama pemerintah dan stakeholder terkait menegaskan komitmen mempercepat reformasi pasar modal Indonesia secara menyeluruh guna memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor.

Edukasi dan Pelindungan Konsumen

Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan, OJK menyelenggarakan Gerakan Nasional Literasi Keuangan Syariah (GERAK Syariah) melalui berbagai kegiatan seperti sosialisasi dan edukasi keuangan syariah, talkshow keuangan syariah, kompetisi video di media sosial, serta kegiatan sosial. Program GERAK Syariah berlangsung 6 Februari hingga 17 Maret 2026 dan akan ditutup secara nasional, 2 April 2026.

Sementara itu, hingga Februari 2026, kegiatan edukasi keuangan yang dilaksanakan OJK Sulselbar, tercatat 51 kegiatan dengan 631.813 peserta yang berasal dari berbagai segmen masyarakat, antara lain pelajar, mahasiswa dan pemuda, komunitas, pelaku UMKM, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum.

Upaya ini merupakan bagian dari komitmen OJK dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan edukasi dan literasi terus dilakukan secara kolaboratif dengan bersinergi bersama Industri Jasa Keuangan (IJK) dan pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Untuk memperkuat jangkauan edukasi kepada masyarakat, OJK juga menjalankan program OJK PEDULI (OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan) yang diharapkan dapat memberikan multiplier effect dalam meningkatkan literasi keuangan di masyarakat. Hingga saat ini tercatat 1.116 Duta OJK PEDULI yang terdaftar dan dikelola OJK Sulselbar.

“Terkait layanan konsumen, hingga Februari 2026 terdapat 307 layanan, berupa 63 layanan pengaduan, 201 pemberian informasi, dan 43 layanan penerimaan informasi,” sebutnya.

Saat ini, tercatat 118 layanan terkait sektor perbankan, 118 layanan terkait fintech, 44 layanan terkait perusahaan pembiayaan, 9 layanan terkait asuransi, 1 layanan terkait pasar modal, serta 10 layanan terkait entitas non-IJK. Sedangkan, untuk permohonan SLIK pada periode Februari 2026 terdapat 2.813 layanan baik untuk walk-in maupun online.

Editor: Bali Putra